Oleh: Angga Putu Soemardi


Di usia 15 tahun seorang Zahra harusnya ikut ulangan kenaikan kelas di MTs tempat saya mengajar, bukan jadi istri ketiga Pak Tirta.

Ya, saya tahu Zahra hanyalah nama tokoh yang diperankan oleh Ciarachel Fourneaux dalam sinetron Indosiar kesayangan kalian itu. Iya kalian.

Hal inilah yang menjadikan mega series Suara Hati Istri “Zahra” menjadi perbincangan dan polemik di Indonesia. Karena Ciarachel selaku pemeran tokoh Zahra baru berusia 15 tahun dan sebagai seorang yang berstatus anak-anak.

Ciarachel dinilai belum sewajarnya berperan sebagai seorang istri apalagi istri ketiga. Akhir dari Polemik ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat melalui komisioner Bidang Kelembagaan Nuning Rodiyah menyampaikan bahwa KPI telah menerima klarifikasi dari pihak Indosiar dan Indosiar akan mengganti pemeran Zahra pada 3 episode mendatang.

Ya, hanya tiga episode mendatang begitulah menurut siaran pers KPI melalui akun media sosialnya di Instagram. Indosiar dengan sinetron-sinetronnya bukanlah pertama kali mendapatkan celaan ataupun protes dari masyarakat yang sebagian besar adalah fans berat sinetron-sinetron Indosiar itu sendiri. Mulai dari editing animasi yang pas-pasan hingga judul dan adegan dalam sinetron Indosiar. Kontroversial adalah jalan ninja Indosiar.

Namun sekali pun sering melakukan pelanggaran ringan penyiaran di Indonesia, seperti sebuah judul sinetron, Indosiar adalah —surga yang tak dirindukan— dirindukan oleh banyak penggemarnya.

Bahkan kaum hawa sebagai kubu terbanyak penikmat sinetron di Indonesia mulai memperbincangkan keseruan sinetron Zahra belum lagi karena pemerannya akan diganti karena masih di bawah umur.

Ada sebagian netizen yang berpendapat bahwa pihak yang memproduksi sinteron mengabaikan aspek-aspek hukum, etika serta norma yang berlaku di Indonesia dan hanya mementingkan aspek-aspek yang dapat menaikkan rating sinetron.

Namun cobalah kita berpikir berlawanan. Jika dalam sinetron sosok istri ketiga diperankan oleh anak usia 15 tahun saja kita berkeberatan dan segera melaporkan ini ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), lantas kenapa di kehidupan sehari-hari kita masih membiarkan pernikahan anak benar-benar terjadi?

Lalu kita mendadak seperti terserang katarak ketika ada pernikahan anak di bawah umur di lingkungan tempat tinggal kita. Sedangkan kita tahu bahwa pernikahan anak di bawah umur adalah hal yang tidak dibenarkan oleh negara maupun agama.

Mengapa kita masih membiarkan adanya permohonan dispensasi pernikahan anak di bawah umur pada KUA yang tak jauh dari rumah kita? Bahkan kita ikut makan lengkuas yang kita pikir itu adalah daging di hajatan pernikahan anak dibawah umur yang mayoritas dikarenakan kecelakaan (mbleduk duluan). Sekali pun dibeberapa tempat pernikahan anak di bawah umur terjadi disebabkan oleh faktor nudaya dan sosio-ekonomi.

Bahkan ada beberapa oknum orang tua yang beranggapan bahwa anak menjadi “penyelamat” keuangan keluarga ketika menikah. Parahnya, ada yang beranggapan anak yang belum menikah adalah beban finansial bagi keluarga (khususnya anak perempuan) Nauzubillah.

Latar belakang pendidikan orang tua diduga kuat menjadi salah satu pemicu munculnya anggapan seperti di atas.

Saya pikir tidak perlu kita perdebatkan lagi. Bagaimana pun pernikahan anak di bawah umur tidak dibenarkan apapun alasannya. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati. Karena secara psikologis dan fisik seorang anak belum siap menjadi istri apalagi mengandung.

Secara psikologis seorang anak yang menikah di bawah umur akan mengalami trauma dan krisis percaya diri sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang Dokter Spesialis Jiwa dr. Jimmi MP Aritonang, SpKJ.

Selain itu pernikahan anak juga berpotensi menyebabkan baby blue syndrome yaitu depresi setelah melahirkan yang terjadi karena perubahan hormon, kelelahan, tekanan mental, dan merasa kurangnya bantuan ketika melahirkan.

Seharusnya ketika ada praktik pernikahan anak (di bawah umur) di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Kita harus menentangnya dengan lantang sama seperti ketika kita keberatan Zahra diperankan oleh anak usia 15 Tahun.

Terakhir, maaf kalau tidak menarik dan sedikit kaku, karena ini hanyalah opini belaka dan kampanye untuk mencegah pernikahan anak di bawah umur.

Salam Sinetron Indonesia.(*)