Origin story sebuah kamus besar dalam sejarah panjang ummat manusia. David Christian dalam pikirannya bahwa sejarah besar segalanya dari ledakan besar ke bintang-bintang dan tata surya. Kehidupan di bumi, dinosaurus, homo sapiens, pertanian, zaman es, imperium, fosil, pendaratan di bulan dan globalisasi massal. Jejak ini menjadi perjalanan manusia dalam fungsinya sebagai khalifatuh fil ard (wakil Tuhan di muka bumi).

Tentang apa manusia ada? Sebuah pertanyaan klasik dan filosofis dan perlu di telulusuri secara epistemologi agar tak menjadi epos sejarah. Tetapi sejarah adalah pembuktian bahwa masa lalu pernah ada.

Karena itu pada dimensi ini pernah terjadi dialog yang luar biasa antara Tuhan dengan malaikat dalam proses penciptaan manusia. Dan malaikat mengingatkan pada Tuhan dengan pertanyaan bukankah manusia di masa lalu telah melakukan pengrusakan. Tetapi Tuhan menjawab ; Aku lebih tahu apa yang kamu ketahui. Jawaban ini membuktikan bahwa Tuhan memiliki pengetahuan yang maha luas tidak sesempit pikiran manusia.

Tentang apa?, yakni tentang manusia di ciptakan, bukan karena pikiran Charles Darwin hingga pikiran genitnya Yuval Noah Harari tentang “Homo sapiens dan Homo Deus” yang mencoba berselancar pada diktum-diktum tujuan manusia ada. Tetapi sesungguhnya bukan tentang ada tetapi tentang apa manusia.

Pada masa lalu, manusia menaklukkan dunia berkat kemampuan uniknya untuk percaya pada mitos-mitos kolektif tentang dewa, uang, kesetaraan dan kebebasan—seperti dijelaskan dalam buku Sapiens. Dalam buku Homo Deus, Prof. Harari menelaah ke masa depan dan mengeksplorasi bagaimana kekuatan global bergeser: kekuatan utama evolusi—seleksi alam—digantikan oleh teknologi baru tingkat dewa, seperti kecerdasan buatan dan rekayasa genetika. Inilah era Homo deus.
.
Memadukan sains, sejarah, filsafat, dan cabang ilmunya, Prof. Harari menunjukkan visi masa depan yang awalnya tak dapat dipahami tapi kemudian tak terbantahkan: manusia akan kehilangan tak cuma dominasinya atas dunia, tapi juga semuanya. Manusia akan tergantikan oleh mesin; atas nama kebebasan dan individualisme, mitos humanis akan dibuang bak kaset lama yang usang. Seiring Homo sapiens menjadi Homo deus, muncul pertanyaan fundamental: ke mana kita pergi dari sini? Takdir baru apa yang kita jalani? Proyek apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita melindungi planet rapuh ini dan umat manusianya dari kekuatan destruktif umat manusia.

Karena itu, pergeseran paradigma pikiran manusia sedikit telah menggeser posisi eksistensial manusia dari humanity ke sekrup-mekanik, dan kecanggihan alat komunukasi yang nyaris tak menyekat hubungan manusia satu sama lainnya.

Oleh sebab itulah pentingnya pertanyaan tentang apa agar lebih memudahkan menemukan esensinya.

#Catatan #EphosHumanity