Oleh: Angga Putra Soemardi


Tanjung Kelumpang adalah satu di antara desa yang berada di Kabupaten Belitung Timur. Dalam cerita turun temurun, nama Tanjung Kelumpang sering diceritakan sebagai kampung halaman D.N Aidit. Meskipun kesahihan cerita tersebut masih perlu dipertanyakan.

Selain itu, nama Tanjung Kelumpang juga disebut dalam novel fenomenal Laskar Pelangi. Dalam novel tersebut dikisahkan ada seorang anak kecil bernama Lintang yang harus mengayuh sepedanya sejauh 40 kilometer setiap harinya demi menuntut ilmu di sekolah dasar. Kampung halaman anak yang jenius itu terletak di Tanjung Kelumpang.

Tanjung Kelumpang juga digadang-gadang menjadi lokasi pembangunan Fakultas Pariwisata Universitas Bangka Belitung (UBB) yang hingga saat ini baru sebatas wacana. Sekalipun menurut Pemda Belitung Timur lahan pembangunan perguruan tinggi tersebut sudah dilakukan clean and clear.

(Baca selengkapnya di https://www.belitungtimurkab.go.id/?p=11907)

Belakangan nama Tanjung Kelumpang kembali muncul ke permukaan setelah Pantai Punai yang berada di sana, mendapatkan predikat Global Geopark oleh UNESCO Global Geopark (UGG) setelah masuk dalam bagian Geopark Belitong.

Tapi meski mendapat predikat Global Geopark, sejumlah wilayah Desa Tanjung Kelumpang masih menjadi Izin Usaha Pertambangan (IUP) bagi beberapa perusahaan tambang galian C. Bahkan terdapat dermaga reklamasi yang menjorok ke laut sebagai tempat kapal tongkang bersandar tak jauh dari kawasan Geosite Pantai Punai.

Selain masih menjadi kawasan IUP, pesisir Tanjung Kelumpang juga mulai digarap sebagai lokasi tambak udang endame oleh perusahaan lokal Bangka Belitung. Sebagai kawasan taman bumi, sejatinya Tanjung Kelumpang harus terbebas dari aktivitas pertambangan yang secara tidak langsung mengakibatkan kerusakan lingkungan dan rawan menjadi citra buruk bagi Geopark Belitong.

Fakta menarik lain dari desa yang berjarak 64 kilometer dari Manggar tersebut yaitu masih menjadi lokasi tambang kawasan pesisir. Di sepanjang desa, sebagian besar telah dikuasai oleh investor dan pemodal dari luar daerah, jauh sebelum Pantai Punai ditetapkan sebagai kawasan Global Geopark.

Informasi ini kami terima setelah bertemu dengan seorang warga setempat yang menjadi satu di antara pemilik lahan di pesisir Tanjung Kelumpang. Ia masih mempertahankan lahan tersebut meskipun sering mendapatkan tawaran menggiurkan untuk menjual tanahnya dengan harga yang fantastis.

Menurut keterangan anak dari pemilik lahan itu, keluarganya memilih mempertahankan lahan yang mereka miliki dan digarap sendiri sebagai objek wisata. Saat ini lahan tersebut mereka kelola dan kembangkan sendiri dengan dana seadanya.

Mereka menamai lahan tersebut Pantai Tebing Tinggi karena di bibir pantai terdapat tebing akibat abrasi. Lokasinya berdampingan langsung dengan kawasan Geosite Pantai Punai.

Keteguhan keluarga ini untuk mempertahankan lahan yang mereka miliki layak mendapat apresiasi dan didukung dengan kemampuan yang kita miliki. Karena tidak menutup kemungkinan suatu saat kawasan pesisir yang telah dikuasai oleh investor dan pemodal dari luar daerah tidak akan dibuka untuk publik dan hanya diperuntukkan oleh tamu-tamu penginapan atau restoran secara eksklusif.

Hal ini sudah terjadi dibeberapa daerah di Indonesia, sebut saja Bali, Lombok dan Padang Sumatera Barat.

Bahkan dalam sebuah video Dokumenter karya Dhandy Laksono memperlihatkan seorang warga lokal di Padang, Sumatera Barat diusir dari pulau yang menjadi kawasan resort eksklusif. Hal serupa juga hampir terjadi di Belitung.

Kawasan pesisir pantai Tanjung Tinggi di Kabupaten Belitung sempat akan ditutup oleh investor untuk membangun lapangan golf dan hotel. Serta sempat ada rencana mengalihkan jalan nasional yang langsung berbatasan dengan pesisir pantai dengan jalan baru yang mereka buat. Sehingga tamu-tamu yang datang dapat menikmati pantai secara eksklusif dan tidak terhalang oleh jalan nasional.

Beruntungnya hal tersebut tidak terjadi karena mendapatkan penolakan yang masif dari masyarakat, sejumlah NGO dan pemerintah daerah. Setelah ditetapkan menjadi kawasan Global Geopark, Pulau Belitung secara umumnya dan Pantai Punai secara khususnya kini menjadi minyak baru bagi para investor dan pemodal. Kawasan yang akan melahirkan pundi-pundi rupiah bagi para pemodal menambah digit kekayaan bagi oligarki lokal maupun nasional.

Belitung pasca novel fenomenal Laskar Pelangi memang telah menjadi surga baru bagi para investor. Penguasaan lahan pesisir dilakukan secara masif beberapa tahun terakhir. Bahkan penguasaan lahan yang dilakukan juga menggunakan dana hasil penggelapan uang negara. Seperti kasus Korupsi Asabri yang berujung pada penyitaan delapan bidang tanah di Pulau Belitung.

Sekalipun sebagian besar lahan pesisir di Tanjung Kelumpang telah dikuasai oleh investor dan pemodal dari luar daerah, dukungan terhadap masyarakat lokal sebagai pemilik lahan yang masih bertahan tidak menjual tanahnya harus terus dilakukan. Melalui program sosioprenuer dan usaha-usaha lainnya.

Tuhan menitipkan keindahan Tanjung Kelumpang tidak hanya untuk mensejahterakan segelintir orang di negeri ini melainkan untuk dijaga, dirawat dan dinikmati bersama. Karena Tanjung Kelumpang Tidak Dijual!

#Tanjungkelumpangdakdijual
#Tanungkelumpangnotforsale