Beberapa malam lalu, ibu saya tiba-tiba menelpon saat saya sedang ketawa-ketawa  sendiri karena nonton polahnya Pyo Chi Su di Drakor Crash Landing On You di kamar kos. Mau tidak mau, saya harus menghentikan sementara aktivitas menonton, dan segera angkat telfon.

Setelah menanyakan kabar dan memberikan 9 nasihat seputar hidup bersih untuk selamat dari Pandemi Corona ala emak-emak ke anaknya, beliau yang seorang guru SD di desa kami mulai bercerita tentang sulitnya mempraktekkan kebijakan belajar dari rumah di kampung yang lebih terpencil dari SD Laskar Pelangi.

Ya, Pemerintah Indonesia pada tanggal 31 Maret 2020 memang telah mengeluarkan PP Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mempercepat penangangan COVID-19. Ingat, kalau kalian menjunjung nasionalisme istilahnya PSBB ya… bukan lockdown! Bukan juga karantina wilayah, tapi PSBB. Pokoknya PSBB, TITIK!

Salah satu poinnya, mewajibkan kampus-kampus dan sekolah-sekolah untuk menghentikan seluruh aktivitas belajar-mengajar secara langsung dan mengubahnya dengan school from home atau belajar dari rumah.

Sebetulnya, teknis belajar dari rumah ini cukup mudah. Mekanisme belajar-mengajar dilakukan dengan tatap muka melalui video conference menggunakan salah satu platform aplikasi. Aplikasi ini cukup canggih dan secara teknis bisa menggantikan kelas tatap-muka langsung.

Bahkan, pengajar tetap bisa menampilkan materi selayaknya mengajar di kelas. Pemberian tugas-tugas dan ulangan juga dilakukan secara online menggunakan platform tertentu. Yang paling sederhana, guru mengirim tugas via email, dan murid mengumpulkan kembali juga via email.

Nah, celakanya, apa-apa yang dialami oleh ibu saya saat school from home sama sekali tidak semudah teknis di atas. Dalam pembicaraan via telfon, ibu saya mengatakan:

Kami para guru di sekolah ini kesulitan ingin menerapkan belajar dari rumah. Awalnya sudah diatur, orang tua murid datang bergantian perkelas sebanyak 2 kali satu minggu. Sekali mengambil tugas, dan sekalinya lagi mengumpulkan tugas.

Lalu, kami dapat info dari atasan bahwa tidak boleh ada orang tua atau murid yang datang ke sekolah. Karena dilarang, kami para guru berinisiatif untuk mengantarkan tugas ke rumah murid seminggu sekali.

Kemudian kami dapat info lagi, kalau tidak boleh juga ada guru yang datang ke rumah murid atau murid datang ke rumah guru untuk mengambil tugas. Kata atasan, pokoknya semuanya harus dilakukan via online. Caranya pikir sendiri. Inilah yang membuat kami guru-guru jadi pusing dan serba salah.”

Kira-kira begitu ringkasan cerita beliau. Lalu kenapa kok teknisnya harus serumit itu? Bukankah dengan online-online-an segalanya lebih mudah?

Oh iya, perlu saya sampaikan, bahwa desa saya ini jaraknya 20 km lebih pelosok dari desanya Lintang dalam film Laskar Pelangi (yang harus naik sepeda 20 km ke sekolahnya melewati hutan, semak-semak hingga buaya). Jadi, desa saya ini jauh lebih terpencil dari SD Laskar Pelangi. Memang sih kalau sekarang, jalan menuju desa sudah mulus. Akses listrik sudah 24 jam. Fasilitas internet juga  sudah 4G.

Masalahnya, listrik di desa kami itu bisa mati 1 sampai 3 kali perhari. Sekali mati bisa sampai berjam-jam. Sialnya, jika listrik mati maka sinyal juga ikut mati, karena tower provider-nya tidak punya genset.

Kemudian, Ibu saya melanjutkan ceritanya:

“Kami mau-mau saja ikut metode belajar dari rumah secara online. Masalahnya, (mungkin) mencapai 50% wali murid itu tidak memiliki smartphone. Jadi punya hp, tapi cuma hp yang bisa telfon dan sms.”

Artinya, metode video conference jelas tidak bisa dilakukan karena banyak murid yang akan ketinggalan pelajaran karena tidak tersedianya fasilitas.

Bagi yang punya smartphone-pun, tidak mengerti cara menggunakan email. Jadi jangan bayangkan kami bisa melakukan video conference dengan aplikasi yang rumit itu. Mengirim dokumen via email atau whatsapp-pun banyak yang belum bisa. Jangankan wali murid, kami guru-guru pun banyak yang belum mengerti.

Selain soal listrik, SDM-nya juga belum semuanya mengerti. Jangankan harus video conference via zoom, saya masih sering menjumpai orang-orang dewasa yang tidak mengerti cara menulis dan mengirim sms. Bahkan banyak yang Cuma paham cara mengangkat telfon.

Kenapa gak suruh anak-anaknya yang make smartphone sendiri? Jika anak-anak yang diajar adalah anak SMP mungkin mereka bisa menggunakan smartphone untuk belajar secara mandiri. Tapi ini anak SD, dan ini anak SD di desa, bukan di kota. Gak semuanya bisa main smartphone. Kalau ada yang bisa, paling bisanya main mobail lejen atau pabji. Itu juga sering bikin berantem perihal ngabisin kuota

Soal email, saya sendiri beberapa kali dimintai tolong oleh ibu saya membuat email untuk teman-temannya di kampung. Saya juga pernah video call dengan ibu saya lebih dari 15 menit untuk mengajarinya mendownload dokumen pdf yang dikirmkan oleh atasannya via whatsapp.

Terakhir, ibu saya masih mengucapkan syukur dan membandingkan dengan sekolah yang lebih terpencil.

Kami saja menerapkannya seruweh itu. Bagaimana anak-anak yang ada di Pulau Long atau Pulau Sekunyit? Di sana sama sekali gak ada fasilitas internet. Infonya mereka juga diwajibkan menerapkan belajar dari rumah.  

Saya langsung teringat jika Pulau Long ini luasnya hanya 6Ha (cukup 3 jam berjalan kaki untuk mengelilingi pulau ini) dengan penduduk 300-an jiwa. Cuma ada satu SD di pulau ini. Muridnya sekitar 50-an orang. Untuk mendatangi pulau ini, kita harus naik perahu kayu selama 4 jam (8 jam kalau ombak besar) ke sisi timur Pulau Belitung. Kabarnya, listrik hanya sepertiga malam (jam 6 sore sampai jam 1 dini hari). Di sana juga sama sekali tidak ada fasilitas internet. Saya bertanya-tanya gimana caranya mereka online-online-an?

Dalam telfonan itu, saya tidak bisa menyangkal ibu saya karena faktanya memang demikian. Saya juga tidak bisa menyalahkan pemerintah karena ini memang protokol standar guna mencegah penyebaran pandemi.

Pada satu sisi, saya yakin Virus Covid-19 tidak akan bisa terbang sendiri sejauh seratus kilometer dari lokasi pasien positif Corona terdekat, atau berenang menyebrang lautan ke Pulau Long yang jaraknya 4 jam dengan perahu.

Disisi lain, mereka aman kalau orang-orang di desa ini dipastikan komitmen untuk tidak ke kota, tetap sekolah seperti biasanya-pun harusnya aman-aman aja. Tapi ya tentu saja itu tidak mungkin. Bagaimana mereka bisa membeli sembako? Inilah yang jadi simalakama.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir, agar anak-anak di desa terpencil seperti kami dan desa terpencil lainnya di seluruh negeri bisa kembali belajar seperti sedia kala.