“Disana ada hasrat yang disebut sebagai thumos dan sofis yang kritis. Kesadaran untuk mengambil jalan aman (thumos) bergerak kearah mengambil posisi termasuk dalam kekuasaan. Sementara sofis (pemikiran dan ideologi) kadang mengalami benturan keras dari kekuasaan, premanisme, para centeng, kaum hacienda (pengusaha dengan banyak algojo) yang menghukum kaum kritis untuk menghalalkan kekeliruan untuk menjad kebenaran yang dipaksakan”


Penulis: Saifuddin Al Mughniy
– Centrum Arete Institute
– Anggota Forum Dosen Indonesia
– Penulis buku


Sejarah politik memang tak pernah sepi dari pergolakan, pemberontakan dan permusuhan. Seakan hal ini menjadi biasa dan dianggap satu tradisi dalam kehidupan masyarakat klasik hingga masyarakat modern. Secara histories banyak fakta sejarah perebutan kekuasaan dilakukan dengan cara sporadis dan inkonstitusional. Banyak kisah heroik terkait peperangan, cinta dan pertumpahan darah antar klan dan sekte. Kejatuhan imperium Romawi diakhir abad ke-4 berdiri kokoh sebagai imperium terkuat. Yang disegani selama 500 tahun bertahan. Sekalipun para sejarawan sempat memperdebatkannya kenapa imperium Romawi bisa runtuh. Dalam sejarah di catat, bahwa kekaisaran Roma tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan suku Jerman selama berabad-abad lamanya. Namun ditahun 410 Alaric, Raja Visigoth, berhasil memguasai kekaisran Romawi Barat. Selama beberapa tahun berikutnya kekaisaran ini berada dibawah kekuasaan bangsa Goth. Tetapi ditahun 455 kota abadi ini diserang opleh kelompok vandalism yang berasal dari Jerman Timur. Dan ditahun 476 , ppemimpin Jerman yang bernama Odoacer melakukan aksi pembantaian dan berhasil melengserkan kaisar Romulus Augustulus, sehingga tahun disebut sebagai tahu keruntuhan kekaisaran Romawi Barat.

Demikian pula perang The Troya, salah satu perang terbesar dalam mitologi Yunani kuno. Perang Troya adalah penyerbuan kota Troya yang terletak di Asia kecil oleh pasukan Akhaia (Yunani), peristiwa ini dipicu karena Paris menculik Helene dari suaminya Menelaos Raja Sparta. Dua naskah tentang perang ini diceritakan dalam karya sastra Yunani, yakni Lliad dan Oddisseia karya Homeros. Lliad yang mengisahkan tentang tahun terakhir p[engepungan kota Troya, dan Oddisseia, mengisahkan tentang perjalanan pulang Oddiseus salah seorang pemimpin Akhaia (Yunani). Bahkan perang inipun di desain dengan drama percintaan yang luar biasa, disana ada darah dan kematian serta epilog cinta yang menyedihkan ketika Hektor harus mati ditangan Archilles. Dan Archilles pun harus menerima kematian dengan anak panah dari Paris ditengah huru hara.

Tetapi dalam konsepsi bagaimana kemudian menarik benang merah antara seni, cinta dan pemberontakan adalah menjadi hal yang sulit terpisah. Dan bisa dilihat dihampir semua huru hara dalam perebutan kekuasaan dimasa lalu selalu diwarnai dengan sengketa sex dan percintaan yang mengharukan sekaligus mengerikan. Dalam seni dan pemberontakan sebagaimana yang ditulis oleh Albert Camus dalam buku “Seni, Politik, dan Pemberontakan” pada prinsipnya telah membuka ruang (baru) persepsi tentang bagaimana politik, kekuasaan dan seni itu menjadi sesuatu yang tak terpisah satu dengan yang lainnya. Bahwa seni selama ini tak mendapat tempat diarena politik, itu menjadi sesuatu yang keliru, sebab dari awal dengan penuh rasa bersalah, seni mencoba bersaing dengan “Tuhan” ungkapan Srtanislas Fumet yang menggambarkan posisi seniman mengambil tempat diruang sosial sekaligus mengkritik kekuasaan dengan puisi, prosa, syair, lagu, orasi, sarkasme, satire hingga pada drama dan musikalisasi untuk menggambarkan posisi kekuasaan. Dalam sejarah pergolakan, ada juga seniman yang mengembangkan seni melalui tradisi pemikiran. Termasuk tradisi pemikiran Marxis yang menekankan pada materialisme historis dan perjuangan kelas. Bertold Brecht mengembangkan teori teater Marxis yang berjarak (V-Effekte), yang mengarahkan teater tidak lagi pada “dramatis”, tetapi meelainkan “Epic”,dimana pertujukan teater tidak lagi diarahkan untuk memantik emosi penonton, tetapi bagaimaan pertunjukkan itu diarahkan pada moment terkait kearah perubahan gerak manusia dalam aspek sosial dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Bahwa pesan pertunjukan tak semata ‘standing aplous”, tetapi lebih pada nurani sosial terkait perubahan pola pikir dalam kehidupan masyarakat tertentu.

Sementara Lukacs, yang banyak terinspirasi pemikiran Hegel, Engels, dan Lenin, yang menganggap seni sebagai sarana manusia untuk sadar diri, hanya dapat dicapai dengan pemikiran historis. Seni bersifat antropomorfis, yaitu menghadirkan realitas dengan hbungannya dengan manusia, berbeda dengan ilmu yang menghadirkan realitas dalam diri mereka sendiri (de-antropomorfis). Seni mendasarkan kebenaran kepada sejarah dunia manusia disini dan kini. Berbeda dengan agama yang berorientasi kepada akhirat. Dan seni lebih menekankan pada nilai-nilai positif yang berbeda dengan estetika pada rumusan-rumusan yang normatif.

Sehingga dalam bentangan sejarah ummat manusia, dapat dilihat sekitar tahun 60-an sejalan dengan perkembangan masyarakat secara umum, era modernism dengan segala identitas yang menyertainya kian surut. Orang mulai mempertanyakan dasar-dasar paradigmatik modernisme. Jacques Derrida, misalnya bahwa semua penjelasan dan pemahaman tentang dunia adalah tak lebih dari sebuah cerita atau diskursus dan bukan kebenaran. Kita tidak akan pernah sampai pada kebenaran realitas, kitas hanya dapat menjangkau “wacana” tentang realitas yang kita bincangkan. Dari sinilah kemudian bermula yang disebut postmodernisme.

Karena itu, pergolakan dalam politik dan kekuasaan selalu (mungkin) diwarnai dengan bagaimana dramtikalisasi-seni, metahafora dalam orasi yang sesungguhnya adalah sarkas atas kekuasaan. Sehingga menurut Albert Camus, menjadi seniman, penulis dalam menciptakan karya adalah pemberontakan. Pemebrontakan dan kreativitas adalah dua hal yang teramat sulit terpisahkan, sebab semua tindakan kreativitas adalah wujud sebuah pemberontakan. Demikian pula sebaliknya setiap pemberontakan selalu terkandung usaha-usaha yang kreativ. Keduanya merupakan perjuangan untuk sampai pada tatanan pembebasan dan kebebsan individual terhadap status quo yang using. Dan secara harfiah kreativitas dan pemberontakan adalah gerak alam raya itu sendiri. Sehingga kreativitas membutuhkan gerak evolusi yang dipercepat (revolusi), keberanian, dan membangun trust (kepercayaan) atas nilai-nilai yang diperjuangkan.

Bahwa sebagian orang harus memilih diam dan berada dalam suatu beban psikologi (dilematis) untuk memilih jalan kebenaran dan mendiamkan kezaliman adalah satu dari bentuk pertarungan jiwa manusia. Disana ada hasrat yang disebut sebagai thumos dan sofis yang kritis. Kesadaran untuk mengambil jalan aman (thumos) bergerak kearah mengambil posisi termasuk dalam kekuasaan. Sementara sofis (pemikiran dan ideologi) kadang mengalami benturan keras dari kekuasaan, premanisme, para centeng, kaum hacienda (pengusaha dengan banyak algojo) yang menghukum kaum kritis untuk menghalalkan kekeliruan untuk menjad kebenaran yang dipaksakan.

Dari sejarah filsuf maupun kaum penguasa demikian lazimnya pertentangan klasik seperti itu, dan era klasik menandai zamannnya dengan perlawanan melalui seni dan teater. Perang ditandai dengan (perempuan) yang bisa dipersepsikan “cinta dan seksualitas”, sementara pemberontakan ditandai dari daya kritis filsuf atas kekuasaan, yang selalu berakhir dengan tragis seperti pembunuhan, penculikan, pemenggalan, ditiang gantungan dan bunuh diri.

Sehingga era modern seperti ini, media mainstream dan jejaring sosial lainnya adalah ruang seni dan kreativitas ummat manusia untuk membangun lahirnya pemberontakan. Pemberontakan yang dimaksud adalah pemberontakan keluar dari kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan. Sebab memndiamkan ketiganya dalam kehidupan itu berarti kita (manusia) telah mengamini rusaknya kemanusiaan.