Oleh: Angga Putu Soemardi


Kontestasi pilkada di tengah pandemi dengan segala hiruk-pikuk telah berlalu, sekali pun tim pemenangan dibeberapa daerah masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi atas gugatan yang diajukan.

Banyak pihak yang secara spontan maupun tersirat, kepo terhadap saya yang menjadi pentolan dari tim pemenangan pada pemilihan bupati dan wakil bupati di daerah yang sebelumnya dipimpin oleh Ahok selama 14 tahun. Ya anda sudah tahulah daerah mana itu.

Pihak-pihak yang saya maksud kepo itu datang dari berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat biasa, wartawan, pihak penyelenggara pilkada, hingga anggota dari institusi yang punya slogan mengayomi masyarakat.

Pertanyaan mereka yang saya katakan dalam tanda kutip “Kepo” sebetulnya sederhana. Yaitu apa imbalan atau remunerasi yang saya peroleh atas kemenangan pasangan calon yang kami usung? Terutama atas perjuangan selama kurang lebih lima bulan, mulai dari mendapatkan rekomendasi, deklarasi, pendaftaran, dan yang terberat yakni tahapan kampanye karena waktunya yang cukup lama yang hampir 60 hari.

Setiap muncul pertanyaan tentang apa remunerasi yang saya peroleh dari keberhasilan 9 Desember 2020 silam, terkadang saya hanya menjawabnya dengan senyum atau guyon waton bahwa remunerasi yang saya peroleh sebanyak 2 M yaitu (Makasih Mas). Seperti salah satu judul lagu Guyon Waton grup band dangdut koplo asal Jogja yang berjudul “Menepi”. Pasca suksesi, selama euforia dan selebrasi yang berlangsung kurang lebih selama dua pekan lamanya, saya memilih menepi.

Karena menurut dosen saya ketika kuliah S1 dulu yaitu Prof. Faisal Ismail, bahwa sebagai khalifah di muka bumi, manusia sebaiknya tidak berlebihan dalam bersyukur. Cukuplah dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Baginda Rasullulah SAW.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa sahabat Abu Bakar mengatakan, “Bila Rasulullah SAW mendapati kemudahan dan kabar gembira, beliau langsung tersungkur bersujud kepada Allah SWT,” (HR. Ibnu Majah).

Subhanallah ternyata tidak sia-sia saya kuliah di kampus radikal UIN Sunan Kalijaga selama hampir 6 tahun. Masih ingat beberapa bunyi hadis. Dosenku Dr. Irsyadunnas, M.Ag (Buya Irsyad) pasti bangga dengan hal ini sekalipun dulu dimata kuliah hadis BKI aku hanya mendapatkan nilai B+.

Kembali lagi pada persoalan, apa remunerasi yang saya peroleh dari kemenangan dalam Pilkada 2020 di Belitung Timur. Sebetulnya tak pernah ada hitam di atas putih antara saya dan pasangan calon ataupun antara saya dan partai politik. Karena bagi saya remunerasi yang sesungguhnya ialah kemenangan itu sendiri.

Selain itu ilmu dan pengalaman yang saya peroleh selama tahapan pilkada adalah remunerasi yang tak akan dapat dikonversikan dalam bentuk rupiah. Karena pengalaman adalah guru yang sesungguhnya.

Melalui tulisan ini saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan (kepo) yang selama ini dilontarkan oleh berbagai pihak kepada saya. Semoga segala tulisan ini dapat menjadi jawaban karena berpolitik dengan sistem take and give bukanlah tipikal saya.

Berjuang untuk keadilan dan kemenangan kaum mustadafin telah aku lakoni sejak dengan sengaja menuntut ilmu di kampus yang banyak warna oranye tapi sering dibilang kampus Putih.

Proses panjang mulai dari OPAK,

Koar-koar di panggung demokrasi, mengepalkan tangan di pertigaan revolusi, dan organisasi pergerakan Islam yang saya geluti, semua adalah laboratorium hidup dan proses suksesi pilkada adalah laboratorium hidup lainnya. Demikianlah tulisan yang bersifat subjektif ini yang penuh dengan unsur memuji diri sendiri. Jadi masih mau bertanya apa remunerasi yang saya peroleh? Biarkan aku dan Tuhanku yang berdiskusi tentang itu.