Puasa ramadhan adalah merupakan salah satu dari rukun Islam, sebagai satu juga dari tiang agama. Sehingga tiap-tiap muslim berkewajiban untuk melaksanakannya setiap tahunnya dalam sebulan penuh. Tetapi puasa tak sebatas melaksanakan nilai syariatnya saja. Tetapi paling tidak kita akan mengetahui secara history asal muasal dari puasa itu sendiri. Sebelumnya puasa tidak langsung diperintahkan begitu saja untuk melaksanakannya, dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, sebagaimana kelaziman ummat Islam selama ini.

Namun menurut hadist yang di riwayatkan Mua’adz bin Jabal, sejarah puasa Ramadhan tidak muncul begitu saja. Dalam riwayatnya, sebelum nabi menerima perintah puasa ramadhan, Nabi telah melaksanakan puasa Asyura dan puasa tiga hari setiap bulannya. Secara singkat sejarah puasa ramadhan sendiri mulai diwajibkan (untuk melakukan
ibadah puasa), yakni pada tahun ke 2 Hijriyah atau 624 Masehi setelah Nabiullah Hijrah ke Madinah. Bersamaan dengan disyariatkannya sholat Ied, zakat fitrah, dan kurban. Ini membuktikan bahwa puasa adalah suatu ibadah yang bersifat universal dan ibadah yang disempurnakan dari ummat-ummat terdahulu. Sebagaimana ayat Al -ur’an QS. Al-Baqarah 183 ; Hai orang-orang yang beriman berpuasalah, sebagaimana telah diwajibkan sebelum kamu agar kamu bertaqwa. sehingga esensi puasa adalah bagaimana memperoleh nilai taqwa dihadapan Allah SWT.

Berkenanaan dengan isyarat taqwa, suatu ketika, Nabi Musa berjalan menuju Bukit Sina – tempat di mana Nabi Musa menerima perintah-perintah Tuhan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang ‘abid (ahli ibadah) yang sedang ber-uzlah (menjauhkan diri dari keramaian). Ketika melihat Nabi Musa mendekatinya, sang ‘abid mendekat dengan
penuh semangat. “Wahai Nabi Allah, pasti engkau akan menemui Allah. Tolong tanyakan kepada Allah, di surga tingkat berapa nanti aku ditempatkan di akhirat?” kata sang ‘abid penuh yakin.

“Lho, (jawab Nabi Musa), bagaimana engkau bisa memastikan dirimu akan masuk surga?” kata dengan nada heran. “Bagaimana tidak, wahai Nabi Allah. Aku mengasingkan diri dari keramaian sudah selama empat puluh tahun. Aku telah meninggalkan segalagalanya. Selama itu aku tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Aku hanya berdzikir dan beribadah kepada Tuhan. Aku tidak makan kalau tidak ada daun-daun yang jatuh ke pangkuanku. Aku tidak minum kalau bukan air hujan. Tidak pastikah aku masuk surga?” tanyanya sang ahli ibadah tersebut dengan nada penuh keyakinan.

Nabi Musa kemudian melanjutkan perjalanannya. Di Bukit Sina, ia berjumpa dengan Allah. “Ya Allah, di tengah perjalananku aku bertemu dengan seorang hamba-Mu. Dia ingin tahu di surga tingkat berapakah gerangan tempatnya nanti?” Jawab Allah: “Wahai Musa, sampaikan kepadanya bahwa tempatnya di neraka.” Nabi Musa terkejut. Ia pun
kembali menemui sang ‘abid. Melihat Nabi Musa datang, sang ‘abid dengan penuh semangat menemuinya. Ia ingin cepat mengetahui di surga tingkat berapa tempatnya kelak di akhirat.

“Di surga ke berapa tempatku nanti? Katakan secepatnya, wahai Nabi Allah!” kata sang ‘abid seraya mengguncang-guncang bahu Nabi Musa. “Katakan wahai Nabi Allah, jangan biarkan aku menderita karena menunggu.” Nabi Musa lama terdiam. Ia kesulitan mengungkapkan jawaban yang santun agar tidak mengejutkan sang ‘abid. ‘Abid itu terus
mengguncang bahunya.

“Sabar wahai sahabatku. Kata Tuhan, tempatmu nanti di neraka.” “Bagaimana mungkin wahai Musa. Ibadah empat puluh tahun diganjar dengan neraka? Tidak mungkin. Pasti engkau salah dengar. Tolong engkau kembali lagi kepada Tuhan, tanyakan di surga ke berapa tempatku kelak.” Nabi Musa kembali. Di tengah perjalanan ia bergumam
sendirian, “Iya ya, jangan-jangan aku salah dengar.”

“Tuhan, hambamu ingin kejelasan, apa benar tempatnya kelak di neraka?” tanya Nabi Musa kepada Allah sekali lagi. “Katakan, tempatnya di surga.” “Jadi, Tuhan, tadi aku salah dengar?” “Tidak. Wahai Nabi-Ku, engkau tidak salah dengar. Aku tadinya memang akan menempatkannya di neraka. Aku menciptakan manusia bukan untuk egoistis, apapun alasannya, termasuk alasan spiritual. Aku menciptakan manusia sebagai khalifah dan untuk saling membantu sesamanya. ‘Abid tadi bukan mendekatkan dirinya kepada-Ku. Tetapi ia menghindari kehidupan sosialnya.

“Lalu secepat itukah keputusan-Mu berubah?” tanya Nabi Musa. “Pada saat engkau berjalan menuju ke sini, ‘abid itu tersungkur sujud, ia menangis sejadi-jadinya. Ia memohon kepada-Ku – kalau benar ditempatkan di neraka – agar tubuhnya diperbesar sebesar neraka Jahanam, supaya tidak ada orang lain yang masuk ke dalamnya selain
hanya dirinya. Pada saat itu, ia tidak lagi egoistis. Ia kembali ke angkuan realitas kehidupan. Saat itu ia telah memikirkan kepentingan orang lain selain dirinya.”

Dalam cerita tersebut, ada pesan Al-Qur’an yang ingin disampaikan, yaitu ibadah individu dan ibadah sosial yang dalam bahasa agama disebut habl min Allah wa habl min an-nas (hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama) merupakan dua sisi ibadah yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak diperbolehkan hanya
mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial, dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu, atau sebaliknya, hanya mementingkan ibadah ritual atau kesalehan individu, dan melupakan kesalehan sosial.

Akhir-akhir ini, ada kecenderungan beberapa kalangan di Indonesia yang tidak mau beragama secara formal. Mereka memeluk satu agama, tetapi mereka tidak melakukan ibadah ritual agama. Bagi mereka, yang penting adalah berbuat kebaikan kepada sesama manusia yang mendatangkan manfaat bagi orang lain. Islam dengan tegas tidak memperkenankan kecenderungan kalangan tersebut. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu. Kedua ibadah tersebut merupakan kesatuan yang terpadu. Memisahkan salah satu dari keduanya bagaikan fatamorgana.

Dalam Q.S. al-A’raaf ayat 96, Al Qur’an menggambarkan hubungan antara ketakwaan di satu sisi dan masyarakat di sisi lain. ”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Kesalehan individu identik dengan hubungan seseorang secara pribadi kepada Allah swt. Ia melakukan ibadah yang pahalanya hanya untuk dirinya sendiri, tetapi manfaat ibadah yang dilaksanakannya tidak dirasakan secara langsung dan berkaitan dengan kepentingan orang banyak.

Sementara ibadah sosial identik dengan hubungan seseorang dengan sesama manusia, dan sekaligus hubungan manusia dengan Allah. Ibadah sosial lebih mengutamakan kepentingan orang lain, tetapi berdampak positif juga bagi dirinya sendiri. Walaupun banyak perintah untuk beribadah dalam agama ditujukan kepada individu tetapi harus
berdampak dalam kehidupan sosial yang nyata. Ibadah tidak memiliki nilai apapun apabila tidak tercermin dalam pergaulan dengan masyarakat, karena sebenarnya pergaulan itu merupakan ibadah. Hal itu karena kesempurnaan individu hanya dapat berlangsung melalui pengalaman praksisnya dalam masyarakat.

Sehingga, seolah-olah, beribadah dalam sunyi dan sendiri merupakan sekolah yang membekali individu dengan bekal teoritis, sedang ia tidak dapat menjadikannya praksis kecuali melalui aksi-aksi di dalam masyarakat serta interaksi secara intensif dengan individu-individu di dalamnya. Itulah sebabnya Nabi bersabda, yang artinya; “Orang muslim sejati adalah orang yang semua kaum muslim selamat dari lisan dan tangannya” (HR. Muslim) Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial.
Ketakwaan yang menjadi sasaran utama pelaksanaan rukum Islam yang keempat ini memiliki dimensi pembinaan yang komprehensif, baik bagi pembentukan kualitas hidup individual maupun bagi upaya penciptaan iklim sosial.

Ibadah puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Dan ketakwaan ini tercermin dari 2 hal penting dalam kehidupan kita. Pertama adalah Kesalehan Individual, yang kedua Kesalehan Sosial. Kesalehan Individual tercermin dari perilaku keseharian kita, bersikap rendah hati, tawadhu, sederhana dan hal-hal baik lainnya. Terlebih pada ikatan-ikatan kita kepada Allah SWT.

Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan kita, tanggungjawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit dalam kehidupannya. Oleh karena itu, ibadah puasa kita lakukan dengan penuh kesadaran dan penuh keyakinan karena tujuannya adalah akan meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Kesadaran sosial dalam ibadah itu terlihat dengan jelas dalam praktek peribadatan kita seperti memberikan buka puasa dimesjid-mesjid, bahkan dikota-kota besar beberapa komunitas membagikan takjil gratis dijalan-jalan bagi pengendara yang melintas. Kesalehan sosial begitu terasa di bukan suci ramadhan itu.

Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. Ketakwaan yang menjadi sasaran utama pelaksanaan rukum Islam yang keempat ini memiliki dimensi pembinaan yang komprehensif, baik bagi pembentukan kualitas hidup individual maupun bagi upaya penciptaan iklim sosial. Karenanya puasa minimal menjadi bulan tarbiyah bagi kaum muslim untuk meningkatkan bangunan peradaban dan akhlakul kharimah baik secara individual maupun secara sosial. Kesalehan individual lebih mengarah pada tangan kita kepada Allah SWT dengan cara memohon doa dan beribadah dengan khusyuk, sementara kesalehan secara sosial adalah tangan kanan yang memberi tanpa harus tangan kiri mengetahuinya.

Apalagi distuasi pendemi Covid 19 ini, dampak ekonomi sosial semakin terasa ditengah masyarakat. PHK, karyawan yang kehilangan pekerjaannya, buruh bangunan, UMKM, Pariwisata, pedagang kaki lima, dan semua sektor kehidupan manusia—sehingga rasa empaty dan solidaritas sosial sangat dibutuhkan untuk menyambungkan tali kemanusiaan. Dan ini adalah pentingnya puasa di bulan ramadhan—membangun kesalehan spritualis dan kesalehan sosial sebagai manifestasi dari konsepsi Hablumminallah wa hablumminnnas.”””