“Bahasa merupakan bagaimana cara seseorang dalam mengkomunikasikan ide dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi khususnya berkomunikasi secara oral. Sedangkan bicara lebih merujuk kepada produksi suara atau bunyi.”


Oleh : Eis Masitah S.Psi.,M.Psi

Psikolog


Beberapa kali berkesempatan mengisi di acara parenting tidak sedikit orangtua maupun guru yang mengeluhkan permasalahan bicara pada anak. “apakah normal ketika anak saya masih TK tapi belum bisa menyebutkan namanya sendiri?” atau ada juga orangtua yang mengeluhkan kalau anaknya belum bisa dipahami bicaranya sehingga kesulitan untuk memenuhi kebutuhanya. Semoga tulisan ini bisa menjadi tambahan wawasan untuk para bunda dalam membersamai anak-anak untuk terus tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sering kali kita para orangtua lebih berfokus pada aspek fisik misalnya beratnya berapa apakah sehat tidak ada sakit dan lain sebagainya. Namun sadarkah kita bahwa ada aspek perkembangan yang lain yang juga tidak kalah pentingnya. Salah satunya adalah perkembangan bahasa pada anak. Perkembangan bahasa pada anak merupakan salah satu aspek yang penting. Anak yang mengalami keterlambatan dalam berbicara biasanya memiliki permasalahan juga dalam perkembangan kognitifnya seperti membaca, menulis, mengeja dan berhitung. Menurut Kusmana (2012) perkembangan bahasa juga berdampak pada perkembangan sosial anak, hal ini juga dibuktikan oleh Durkin dan Conti-Ramsden (2012) bahwa anak-anak dengan gangguan pada perkembangan bahasa akan memiliki masalah dalam interaksi sosialnya selama masa kanak-kanak dan remaja. Selain itu ketika di sekolah anak juga mengalami kesulitan dalam hal bersosialisasi

Lalu apakah yang dimaksud dengan bahasa apakah sama dengan berbicara, dalam hal ini kadang kita sering tertukar membedakan kedua istilah ini. Bahasa merupakan bagaimana cara seseorang dalam mengkomunikasikan ide dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi khususnya berkomunikasi secara oral. Sedangkan bicara lebih merujuk kepada produksi suara atau bunyi.

Ada beberapa jenis gangguan bicara,namun yang paling sering terjadi adalah gangguan artikulasi dan fonologi. Lalu seperti apakah kriteria gangguan tersebut? Berdasarkan Diagnostic Statistical Manual IV-TR (DSM IV-TR)gangguan fonologis memiliki ciri-cirI sebagai berikut:

  1. Kegagalan dalam mengeluarkan bunyi bicara yang diharapkan sesuai tahap perkembangan, usia dan kekhasan bahasa (dialek). Misalnya kesalahan dalam produksi, penggunaan, representasi, atau organisasi bunyi, misalnya penggantian bunyi huruf (misal melafalkan /k/ sebagai /t/), penghilangan bunyi misalnya pada konsonan terakhir atau kesalahan lainnya.
  2. Kesulitan pada produksi bunyi bicara mengganggu prestasi akademis atau pekerjaan atau mengganggu komunikasi sosial
  3. Jika terdapat retardasi mental, defisit motorik-bicara atau defisit sensoris atau deprivasi lingkungan, kesulitan bicara merupakan bentuk perluasan gejala yang berhubungan dengan permasalahan tersebut

Sedangkan menurut Winarsih dkk (2013), ciri-ciri dari anak yang mengalami gangguan bicara antara lain:

  1. Anak tidak langsung menangis sesaat setelah dilahirkan.
  2. Tidak bereaksi terhadap bunyi yang terjadi di sekitarnya.
  3. Tidak pernah atau jarang menangis.
  4. Tidak suka menatap atau membalas tatapan ibu ketika disusui.
  5. Kesulitan dalam mengunyah, menghisap, dan menelan saat makan dan minum.
  6. Belum mulai berbicara dari usia sekitar 12 bulan.
  7. Perbendaharaan kata atau kalimat minim.
  8. Tidak mampu menyusun kalimat sederhana dan terkadang hanya menyebutkan suku kata akhirnya saja.
  9. Ada kelainan organ bicara, misalnya celah pada bibir atau sumbing dan kelainan bentuk lidah.
  10. Suka menyendiri atau tidak bergaul.
  11. Bicaranya sulit dimengerti.

Lalu upaya apa yang dapat dilakukan oleh orang tua ketika mengetahui anaknya mengalami hambatan perkembangan dalam bahasa. Menurut Slavin (2009) ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru di sekolah untuk membantu siswanya yang mengalami gangguan bicara, yaitu:

  1. Sabar dalam memperlakukan siswa yang terdeteksi mengalami keterlambatan bicara.
  2. Tidak menempatkan siswa dengan gangguan bicara pada situasi yang penuh tekanan yang memerlukan respon verbal secara cepat.
  3. Guru membantu artikulasi yang benar saat siswa berada di sekolah.

Selain itu kita harus menyadari bahwa terdapat lingkungan yang mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Menurut lewis (2009) terdapat 3 lingkungan yang dapat mempengaruhi bahasa anak yaitu:

  1. Orang-orang yang berada disekitar yang masih memiliki hubungan dengan anak. Banyak orangtua yang kurang menyadari betapa pentingnya peran mereka untuk berinteraksi dengan anak pada masa awal-awal kehidupan anak. Selain orangtua, saudara kandung bisa memberi pengaruh negatif dan positif dalam pengembangan hubungan sosial.
  2. Lingkungan fisik yaitu tempat tinggal, tempat bermain, bagaimana anak mengeksplor lingkungan serta ketersediaan sumber fasilitas fisik seperti permainan atau buku yang membantu anak untuk mendorong perkembangan bahasa anak.
  3. Lingkungan auditori bisa menjadi stimulus bagi anak untuk mendengar kata-kata. Lingkungan yang terlalu bising tidak baik bagi perkembangan bahasa anak. Stimulasi belajar bahasa dari siaran televisi atau perkataan-perkataan orangtua pada anak sebenarnya dapat menjadi salah satu bentuk stimulasi juga.

Referensi :

Marshall, J & Lewis, E. (2009). It’s the way you talk to them? The child environment: early years practitioners perception of its influence on speech and language development, its assessment and environment targeted intervention. Child Language Teaching and Therapy. 20(10):1-16.
Hallahan, D., Kauffman, J., Pullen, P. (2009). Exceptional Learner, eleventh edition. Amerika : Pearson Education, Inc.
Slavin, R.E. (2009). Educational Psychology. New Jersey: Pearson Education, Inc.
Snowling, M.J., Bishop, D.V.M., Stothard, S.E., Chipchase, B. & Kaplan, C. (2006). Psychosocial outcomes at 15 years of children with a preschool history of speech impairment. Journal of Child Psychology and Psychiatry.47 (8): 759-765.
Winarsih, dkk (2013). Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Pendamping (Orangtua, Keluarga dan Masyarakat). Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
DSM IV-TR