Oleh : Agustari, S.M


Kesuksesan sebuah organisasi yang berkelanjutan membutuhkan manusia, baik dimasa sebelum maupun saat pandemi yang sedang melanda hampir diseluruh belahan dunia termasuk di Indonesia. Gejolak pandemi yang meluluh lantakkan berbagai aspek perekonomian di Indonesia membuat semua pihak serta stakeholder memutar otak agar bisa terus bertahan disituasi pandemi saat ini.

Aspek ekonomi, keuangan, serta sumber daya manusia atau human resources yang ada ikut terdampak diikuti oleh aspek-aspek lainnya. Menurunnya peran modal manusia atau human capital dalam membantu menstabilkan kondisi di tengah pandemi terutama dalam sebuah organisasi turut menjadi perhatian.

Melihat perkembangan yang terjadi saat ini, Holbeche (2005) berpendapat bahwa “sukses” pada seperempat abad yang pertama di abad ke-21, akan tergantung pada kemampuan organisasi dalam berperan sebagai entrepreneur. Sehingga akan mampu menghasilkan dan menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk menopang ide-ide baru, tanpa memperhatikan jenis usahanya.

Jika organisasi berharap untuk dapat bertahan, maka organisasi harus mampu melakukan aksi jangka pendek melalui pemikiran jangka panjang. Di samping juga mampu mengambil keuntungan di pasar dunia, selalu berusaha secara proaktif berfokus pada pelanggan, dan mengembangkan produk baru dengan cepat. Serta menciptakan visi dan kepemimpinan dalam organisasi, juga mengutamakan kebutuhan para stakeholder.

Human Capital Theory lahir empat dekade yang lalu oleh Theodore Schultz, Gary Becker, dan Jacob Mincer. Teori ini mendapat perhatian besar dalam penelitian, serta telah mengalami berbagai perkembangan.

Saat ini human capital telah menjadi konsep yang familiar, digunakan di berbagai debat publik dan menjadi frase favorit para politikus yang memiliki perhatian terhadap relevansi perkembangan dan diseminasi pengetahuan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan hidup.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Schultz (1971), human capital theory didasarkan asumsi bahwa pendidikan formal sangat terkait dan dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi organisasi. Dalam kata lain, populasi yang berpendidikan merupakan populasi yang produktif.

Babalola (2003) menjelaskan bahwa alasan yang mendasari investasi pada human capital didasarkan pada tiga argumen. Pertama, bahwa generasi baru harus diberikan pengetahuan (yang relevan) terakumulasi dari generasi sebelumnya. Kedua, bahwa generasi baru harus diajarkan bagaimana pengetahuan seharusnya digunakan untuk mengembangkan produk baru, menawarkan proses dan metode produksi yang baru, serta memberikan pelayanan. Ketiga, bahwa seseorang harus terus dipacu untuk mengembangkan seluruh ide, produk, proses dan metode melalui pendekatan yang kreatif.

Human capital management (HCM) merupakan perkembangan total dari potensi manusia yang memperlihatkan nilai organisasi HCM membahas tentang bagaimana menciptakan nilai organisasi melalui anggotanya.

Menurut Abrahamson (2000), organisasi membutuhkan keadaan yang stabil namun selalu mengalami perubahan. Ironisnya, proses perubahan tersebut dapat mendestabilkan pondasi yang dibangun untuk kesuksesan organisasi di masa depan dengan merusak dasar motivasi SDM yang berupa kepercayaan ‘trust’. Hal ini menjadi ancaman serius terhadap kesuksesan organisasi karena ‘trust’ merupakan ikatan psikologis organisasi dan anggotanya. Untuk membentuk sebuah trust, sumber daya manusia harus dibuat agar dapat merasakan bahwa mereka telah diperlakukan dengan adil.

Pertumbuhan (kesempatan untuk pembelajaran dan peningkatan pengalaman) merupakan hal yang penting. Jika seseorang telah termotivasi untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik, ia membutuhkan pekerjaan yang lebih besar dan menantang, yang menyediakan kesempatan untuk berkembang.

Senge (1990) percaya bahwa dimasa depan hanya ada dua macam organisasi. Ada organisasi gagal, yakni organisasi yang mati perlahan atau tiba-tiba. Lalu ada pula organisasi pembelajar (learning organization) yakni organisasi yang memiliki kemampuan untuk belajar dan bereaksi lebih cepat terhadap pasar daripada pesaingnya.

Vecchio and Appelbaum (1995) menyebut bahwa organisasi yang dapat mempertahankan kesuksesannya meningkatkan kinerjanya melalui pencapaian konsensus dengan pekerja. Dimana seluruh lapisan bekerja sama mencapai tujuan bersama dan trust merupakan komponen kunci dalam meningkatkan kinerja organisasi.

Pengembangan Human Capital tidak sama dengan pengembangan intellectual capital. Dalam mengembangkan human capital tidak hanya menyangkut pemberian pengetahuan dan keterampilan bagi sumber daya manusia. Human capital merupakan pembeda dari organisasi.

Sumber daya manusia merupakan sumber daya yang tidak mungkin sama dengan sumber daya yang dimiliki organisasi lain. Nilai-nilai organisasi harus tertanam pada anggotanya, bukan hanya human capital tetapi juga social capital yang perlu diperhatikan. Social capital ini berupa jaringan, norma dan kepercayaan yang membuat seseorang dapat berusaha secara efektif meraih tujuan organisasi.

Dari uraian tersebut, human capital yang berdaya guna bagi organisasi adalah modal manusia yang memiliki kemampuan teknis yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaannya. Serta memiliki komitmen tinggi terhadap organisasi, sehingga akan mencurahkan semua energi dan kemampuannya untuk organisasi. Hal ini akan berdampak pada efektivitas dan efisiensi organisasi.

Organisasi juga akan semakin produktif karena human capital mampu menjadi daya ungkit bagi inovasi organisasi. Human capital satu di antara aset organisasi agar dapat berkembang, juga menjadi aset organisasi yang secara dinamis dapat dikembangkan sesuai dengan tujuan.

Terlebih ditengah situasi pandemi Covid-19 sekarang ini. Organisasi serta perusahaan diharuskan mampu beradaptasi dengan kekurangan-kekurangan yang ada untuk terus bertahan dengan menciptakan kesempatan atas peluang yang ada walau kecil.

Melalui human capital, organisasi dapat menunjukkan nilai yang dianut. Sehingga nilai (value) yang dimiliki dapat tersampaikan kepada customer.

Human capital merupakan pengelola dalam penggunaan modal-modal organisasi yang lain. Melalui human capital, modal-modal organisasi yang lain dapat diupayakan untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien. Hal ini akan mendukung kesuksesan organisasi di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini.