Ikatan Keluarga Pelajar Belitong yang lebih akrab disebut IKPB merupakan organisasi pemuda kedaerahan, wadah pertukaran pemikiran para pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Pulau Belitung. Pulau yang menaungi dua kabupaten, Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.

Pada 1955 silam lebih tepatnya 13 Februari, secara paripurna IKPB resmi didirikan di Kelapa Kampit hasil dari dua organisasi daerah Ikatan Pelajar Belitong (IPB) dan Keluarga Pelajar Belitong (KPB) yang kemudian melebur dalam satuan kuat berasaskan kekeluargaan, yaitu Ikatan Keluarga Pelajar Belitong. Pendirian tersebut tak terlepas dari peran pemuda, mahasiswa yang pada saat itu melanjutkan pendidikan di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tokoh-tokoh seperti Sobron Aidit, Daud Ali, Djamaluddin Syarif, Abdullah Sani Hamid, Abdullah Majid, dan kawan-kawan memprakarsai berdirinya IKPB agar pelajar Belitong yang pada saat itu berada di Pulau Jawa dapat saling bertukar pikiran dan bertukar informasi dalam satu wadah organisasi.

Berbicara tentang organisasi, pastinya terdapat tujuan yang ingin dicapai secara universal dengan memperhatikan kaidah-kaidah dan norma yang berlaku, baik di tubuh organisasi maupun negara. Peran pemuda begitu esensial terhadap suatu bangsa, tak lain untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan cita-cita UUD 1945. Organisasi dan pemuda tak bisa dipisahkan begitu saja, karena melalui organisasi akan tercetus ide-ide cemerlang sebagai bentuk kontribusi pemuda untuk negerinya sendiri.

Pemuda dan mahasiswa, pada fase perjalanannya cukup banyak menghadapi rintangan terjal. Era Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi menjadi catatan sejarah perjuangan mahasiswa. Kematangan berpikir dan kesadaran sosial menjadi keistimewaan tersendiri yang hanya dimiliki oleh insan akademis dalam menganalisa isu-isu yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Mahasiswa pula harus mengembangkan dan memajukan potensi dalam diri agar menjadi kader-kader bangsa yang progresif.

Setiap pemuda mengalami fase perjuangan yang berbeda-beda. Siklus sejarah membuktikan semenjak berdirinya Boedi Utomo hingga saat ini, eksistensi pemuda tak bisa diragukan lagi. Pemikiran dan pengabdian mereka adalah wujud dari tanggung jawab mereka akan tegaknya Indonesia.

Pra-reformasi atau dapat dikatakan Era Orde Baru, tirani yang berkuasa selama 32 tahun yang digadang-gadang menjadi musuh bersama kemudian ditumbangkan oleh gerakan masif pemuda di berbagai daerah. Melalui gerakan tersebut lahir Reformasi atau perubahan secara drastis di segala lini kehidupan bermasyarakat.

Rentang waktu kelahiran 1997 hingga 2012, merupakan era kelahiran generasi Centennial. Centennial merupakan istilah bagi generasi pemberontak. Apa yang mereka berontak? Kondisi yang ditinggalkan oleh generasi-generasi sebelumnya, mereka dianggap telah gagal dalam merawat dan mengelola Bumi Pertiwi. Kegelisahan yang timbul dalam diri pemuda menimbulkan gerakan-gerakan masif, memunculkan berbagai pemberontakan. Entah itu sistem kepemimpinan yang dianggap kuno ataupun tata kelola manajemen pemerintahan dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia tidak begitu maksimal.

Tahun 2030 diproyeksikan Indonesia akan mencapai fase bonus demografi, kalangan masyarakat mayoritas berada pada usia-usia produktif. Sudah siapkah SDM Indonesia dalam menyambut fase tersebut? Belum lagi Revolusi Industri 4.0, ketika Android dan jaringan Internet sudah menjadi kebutuhan primer sehari-hari. Bagaimana seharusnya pemuda saat ini berpikir kritis dalam menyikapi keadaan tersebut?

Namun, penting untuk menjadi catatan saat ini, sudah sejauh mana kontribusi pemuda terhadap daerahnya sendiri? Masih menjadi persoalan selepas tanggalnya status kemahasiswaan seseorang, akan jadi apa dirinya sepuluh tahun kedepan bahkan tak sedikit yang bermindset karyawan. Maksudnya, bekerja keras, tapi tak berkerja cerdas. Maka dari itu, hadirnya IKPB hari ini sebagai wadah yang menaungi pelajar Belitong tidak lain untuk menghimpun pemikiran dan gagasan progresif. Sebagai pelopor agents of change, pemuda dituntut untuk menjadi eksekutor sekaligus konseptor bagi arah kemajuan bangsanya.

Lebih lanjut, pemerintah daerah sudah seharusnya lebih memikirkan masa depan pelajar yang nantinya akan dipersiapkan untuk menghadapi kondisi tersebut. Masyarakat Belitung dan Belitung Timur hari ini menaruh harapan di pundak IKPB demi terwujudnya pembangunan daerah yang lebih maju dan sejahtera. Masyarakat begitu menantikan inovasi serta kolaborasi dari para pemuda. Saat ini, IKPB telah memiliki 10 cabang di seluruh Indonesia. Palembang, Bangka, Belitong, Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Jogja, Padang, dan Solo. Berkembangnya IKPB merupakan langkah awal, kontribusi nyata dari setiap pelajar yang akan senantiasa mengharumkan nama Belitong di tanah rantau.