Welcome to Kabupaten Belitung Timur yang pada tahun 2009 pernah mencatatkan diri sebagai kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sebesar 11,07 % atau sekitar 9.259 Jiwa. Meskipun prosentasenya turun pada tahun 2010 menjadi 10,36 % namun jumlah jiwanya meningkat menjadi 11.027 jiwa.

Karena terbatasnya data maka kita langsung saja melompat ke tahun 2014 dimana terdapat 35 ribu jiwa yang santuy masuk dalam kategori miskin atau sekitar 6,9 % dari total penduduk Belitung Timur pada tahun itu. Seperti halnya sebuah lagu dalam sebuah pertunjukan drama Musikal Laskar Pelangi tahun 2010 silam di Taman Ismail Marzuki Jakarta. kata orang pulau kami, pulau kaya banyak timah dimana-mana namun siapa yang punya, bukan kami yang punya Sekalipun memiliki sumber daya alam berupa timah ternyata hal tersebut juga tidak menjadikan masyarakat di pulau Belitung khususnya di Belitung Timur (Beltim) menjadi sejahtera buktinya data yang disampaikan oleh Bupati Belitung Timur pada tahun 2015 kepada Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di Beltim masih ditemukan masyarakat yang tidak mampu kalau tidak percaya tanya saja pada mbah google.

Angka Kemiskinan di Belitung Timur sempat menurun drastis pada tahun 2015 yang hanya mencapai 8.710 jiwa. Sayangnya penulis tidak mendapatkan informasi lebih akurat apakah terjadi perubahan indikator kemiskinan atau memang jumlah penduduk miskin di Belitung Timur mengalami penurunan yang cukup drastis. Angka tersebut Kemudian Menurun lagi menjadi 8.480 Jiwa pada tahun 2016 atau sekitar 6,99 %. Dalam waktu satu tahun pemerintah melalui berbagai programnya hanya mampu membebaskan 230 jiwa dari jurang kemiskinan.

Selanjutnya pada tahun 2017 angka kemiskinan kembali turun namun sangat tipis sekali seperti selaput * yaitu, 6,81 % atau sekitar 8.440 jiwa alias hanya 40 orang saja yang terbebas dari lautan kemiskinan. Pada tahun yang sama Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Beltim juga meningkat menjadi 2,62 % jika di bandingkan pada tahun 2015 sebesar 2,55 persen. Kalau ada yang bertanya kenapa datanya loncat dari 2017 ke 2015 jawabannya menurut pak Oktarizal yang menjabat sebagai kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung Timur (saat itu) dalam keterangannya pada media resmi milik Pemkab Beltim pada tanggal 27 Desember 2017. Saat 2016 angka TPT tidak dihitung karena sedang dilakukan penghematan anggaran (karena hemat pangkal irit).

Terjadinya penurunan angka kemiskinan setiap tahunnya boleh dikatakan sebagi sebuah prestasi sekalipun jumlah jiwa yang terbebas dari kemiskinan masih sangat sedikit. Akan tetapi prestasi pada tahun-tahun sebelumnya harus dihadapkan pada kenyataan di tahun 2018 yang mengalami peningkatan angka kemiskinan menjadi 7,06 persen angka tersebut meningkat 0,25 persen dari tahun sebelumnya.

Kemiskinan adalah musuh terbesar dan menjadi lawan yang nyata jika pemerintah kabupaten Belitung Timur hanya menabuh genderang perang tanpa pernah menembakkan meriam dengan tepat sasaran. Angka kemiskinan terus bergerak seperti Rollercoaster dan tidak akan pernah melakukan penurunan perlahan dan pasti seperti pesawat yang hendak mendarat. Jika bala bantuan yang diberikan tak tepat sasaran tentu tidak akan berpengaruh apa-apa pada kesejahteraan elit masyarakat. Terutama di masa Pandemi seperti saat ini, disaat tetangga sekaligus saudara tua (Kabupaten Belitung) sudah bersiap menyalurkan Bantuan Sosial (BANSOS) tahap kedua pemerintah kabupaten Belitung Timur belum memberikan bantuan apapun kepada masyarakat. Sekalipun Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLTDD) sudah berjalan akan tetapi bantuan tersebut tidak berasal dari anggaran yang dimiliki oleh Pemkab Beltim. Meskipun berdasarkan rumor yang beredar angka kemiskinan pada tahun 2019 di Belitung Timur mengalami penurunan (semoga saja benar). Namun bagaimana angka kemiskinan tersebut dapat turun kembali pasa tahun 2020 yang dihiasi oleh Pandemi Covid-19 ini adalah pertanyaan sekaligus tantangan yang harus dijawab dengan langkah nyata oleh pemerintah Kabupaten Belitung Timur.

Namun sekali lagi semua itu hanyalah rumor jangan terlalu sering mendengarkan rumor karena menulis tanpa data hanyalah butiran debu. Saya akhiri dongeng tentang angka kemiskinan dari rezim masa ke rezim masa di kabupaten yang memiliki motto Satu Hati Bangun Negeri (yang miskin tak kunjung teratasi).

Tabik,

Angga Putu Soemardi