Oleh : Ahmad Anis Yanuar

Jauh sebelum manusia itu ada, terjadi sebuah ledakan besar dimana ledakan tersebut membuat inti dari gumpalan benda tersebut nyiprat ke berbagai penjuru galaksi dan membuat dimensi dimensi baru tata surya sebagaimana yang kita tahu maupun yang tidak kita ketahui bahkan yang tidak bisa sama sekali dikalkulasi oleh pikiran-pikiran makhluk hidup. Di Eropa kejadian ini disebut dengan Big Bang, kalau di tasawuf  disebut dengan Nur Muhammad.

Kemudian cipratan-cipratan tadi menjadi benda-benda, ada benda gas, benda cair, benda padat dan sebagainya. Lalu Tuhan menciptakan tumbuhan, hewan dan manusia.  Pertama tumbuhan kemudian hewan dan disusul oleh penciptaan manusia. Tumbuhan tidak memiliki daya kesadaran dan otak sehingga daun tidak menyadari bahwa dirinya ada. Kemudian hewan menjadi mahkluk selanjutnya yang diciptakan. Ada perubahan dari mahkluk sebelumnya, mahkluk kali ini bernafsu, berdarah-daging dan mempunyai otak, namun masih belum berakal. Kemudian makhluk berada di urutan terkakhir adalah “Manusia” yang sudah memiliki nafsu, darah, daging dan otak yang sudah berakal. Dengan kata lain kita ini adalah hasil evolusi dari makhluk-makhluk sebelumnya.

Manusia adalah makhluk paling “Sempurna” yang diciptakan Tuhan. Sempurna dalam artian manusia sudah dalam keadaan proporsional dan presisi. Entah dalam jasad ataupun rohani. Lebih dari itu semua adalah manusia memiliki akal. Begitulah sekiranya manusia ini tidak lain diciptakan sebagai makhluk paling bungsu dan disempurnakan yang memiliki kelebihan atas leluhur leluhurnya. Namun saya kira kelebihan itu malah menjadi kesombongan dan kekejaman. Begitulah dengan sifat manusia di era modernitas ini,  kita begitu angkuh, besar kepala, gemede, tak punya malu dan tak tahu diri. Kita terlalu merasa bahwa kita ini makhluk besar, makhluk superior dan merasa makhluk paling supreme. Kita terbiasa bebas mengeksploitasi alam raya, tanpa kita sadar bahwa oksigen dari tumbuhan berhak memilih siapa yang bisa menghirupnya, kita sibuk membangun beton beton diatas tanah, tanpa kita tau dan peduli bahwa tanah berhak memilih siapa yang layak menginjakkan kaki diatas tubuhnya, kita sudah terlanjur hobi memburu sampai kita lupa bahwa hewan berhak memiliki habitatnya senidiri.

Di era yang serba modern ini, makhluk Tuhan yang bernama manusia ini sudah mencapai level dimana dia merasa berjasa atas kejadian kejadian yang terjadi di dunia ini, menjadikannya merasa makhluk dengan kelas tertinggi. Padahal, semua kejadian-kejadian di dunia ini pastinya selalu ada campur tangan Tuhan. Manusia pikir dia berjasa padahal dia kosong, manusia pikir dia bijaksana padahal dia naif. Manusia memiliki kesadaran akan keberadaan dirinya, itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia dapat berfikir. Gunanya befikir adalah untuk menentukan regulasi-regulasi dan batasan atas dirinya. Manusia diberi kebebasan agar tahu batasnya. Jika manusia tidak tau batas maka dia akan hancur dengan sendirinya. Sama halnya dengan ilmu pengetahuan gunanya agar manusia itu tau tempatnya, tau empan papannya. Bahkan kita bisa melihat kasus yang baru baru saja terjadi. Kasus COVID-19. Seketika kesombongan dan kebesaran manusia dijatuhkan sangat dalam sekali. Manusia dengan angkuhnya memamerkan kecanggihan dan kemajuan teknologi tapi gedabikan dan gagap ketika diberi makhluk yang bahkan tak mampu di lihat secara telanjang. Manusia berbondong bondong mengalahkan rasa kemanusiaannya memborong semua keperluan kesehatan hanya untuk melindungi dirinya sendiri. Bahkan ada juga yang melihat keadaan seperti ini sebagai lahan investasi, membuka lapak industri tanpa peduli umat manusia sedang dibui. Orientasi manusia sekarang bukanlah keselarasan hidup dengan manusia lain, melainkan kepada harta dan benda. Materialisme membunuh perasaan manusia, mencabik cabik kepedulian terhadap sesama. Kita benar benar buta, kita pikir hati kita terang padahal kita sangat gelap gulita. Akal dan hati nurani kita sudah kalah oleh syahwat yang seperti api. Manusia disebut manusia kalau dia punya hati. Saya kira kita perlu meng-elaborasi lagi makna dari “manusia”. Sudah banyak sekali manusia yang kehilangan kesadarannya sebagai manusia.

Defaultnya manusia adalah rasa sakit, rasa kehilangan dan ketiadaan. Manusia disebut manusia kalau dia tidak menyakiti manusia lain. Artinya, semua manusia memiliki rasa sakit yang sama, ketika seseorang ditusuk oleh orang lain maka tentu kita tidak mau hal serupa terjadi pada kita karena tanpa kita merasakan kita tahu rasa sakitnya ditusuk benda yang ujungnya tajam. Kalau kita manusia kita tidak akan melakukannya. Manusia disebut manusia kalo dia tidak mengambil/mencuri barang manusia lain karena sesama manusia tau rasanya ketika kehilangan barang yang benar benar diperjuangkan dan dijaga. Kemudian manusia disebut manusia kalau dia menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini adalah sebenarnya tidak ada. Menjadi urusan teologi. Kembali ke pedoman yang paling fundamental “inna lillahi wa inna illaihi roji’un”, semua yang ada di dunia ini hanya akan kembali kepada-Nya, kira-kira begitu pengertian umumnya.  Menyadari bahwa kita semua itu tidak ada. Tidak ada alasan lain untuk kita sebagai manusia untuk merendahkan orang, menyakiti orang, memaki-maki orang. Karena sejatinya manusia masuk kelas yang sama, dengan kisah asmara yang berbeda beda. Kita memang sedang sakit, kita memang sedang buta maka minimal setidaknya dengan perasaan yang tenang kita perlu menyadari bahwa yang terutama kita lihat adalah diri kita sendiri, terutama yang kita sembuhkan adalah diri kita dan jiwa kita pribadi agar kita sadar bahwa kita ini adalah manusia dalam arti yang sesungguhnya. Yang harus kita intropeksi pada diri kita ialah bahwa kita sebagai manusia itu tidak bisa apa apa, kita sebagai manusia tidak memiliki apapun saja didunia ini. Segala ilmu dan kelebihan manusia hanya pemberian dari Tuhan, bukan pemberian, bahkan hanya dipinjamkan sementara. Maka ayo mari kita membuka lagi mata kita dan hati kita agar tersadar bahwa kita ini adalah makhluk Tuhan yang diberi mandat oleh untuk memberi cahaya diruang yang gelap, mengisi tempat yang kosong dan menyirami tanaman yang layu.