Oleh: Virandy Putra
Guru Fisika SMA Negeri 1 Sijuk


Sebagian orang tua bahkan pendidik menghawatirkan fenomena gim yang banyak digandrungi anak-anak hingga remaja pada usia sekolah. Jumlah gim online tak terbendung lagi, bahkan begitu mudah diakses.

Jika dulu untuk bermain gim online, generasi yang duduk di bangku sekolah sekitar 2007 harus pergi ke warnet, menggunakan PC (personal computer) yang terkoneksi jaringan internet. Namun kini semuanya bisa didapatkan hanya dengan ponsel pintar atau smartphone .

Sebagai seorang pendidik, terkadang saya merasa risih dengan anak-anak yang kecanduan gim. Bahkan seringkali gim juga dikaitkan dengan prestasi belajar. Jika kebanyakan bermain gim, maka prestasi belajar anak-anak menurun karena alam bawah sadar lebih terfokus kepada gim dibandingkan dengan materi pelajaran yang disampaikan. Lalu benarkah gim dengan segala bentuknya bisa membuat anak-anak lupa dan kurang fokus belajar?

Menurut Rheinald Kasali (2018) agaknya kurang fair jika melihat gim hanya dari sudut pandang orang tua atau sebagai seorang pendidik, tapi juga sebaiknya juga memandang dari sudut pandang anak-anak.

Dunia gim memberikan para pemainnya dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata, karena dianggap lebih apresiatif. Ketika bergabung dalam suatu gim, mereka langsung disambut dengan meriah.

“Selamat datang. Inilah pahlawan yang akan membebaskan bangsa kita dari cengkraman makhluk jahat”, begitu sambutannya.

Lalu para pemain di- briefing tata cara bermain dan musuh-musuh yang bakal dihadapi. Kemudian dibekali senjata-senjata canggih. Bahkan beberapa gim juga dilengkapi fitur agar pemain bisa memilih senjata yang diinginkan.

Perjalanan pun dimulai pemain seolah dibawa ke dunia imajinasi. Ketika berhasil menyelesaikan satu per satu misinya, para pemain dielu-elukan bahkan diberikan penghargaan atau reward berupa perlengkapan senjata baru dan canggih. Ketika gagal, anak-anak kita juga tidak dihukum atau dicaci-maki, tetapi justru dihidupkan dan disuruh mengulang kembali lagi dan lagi. Sampai berhasil.

Ketika berhasil apresiasinya luar biasa. Ada tepuk tangan, tambahan poin, dan lainnya. Para pemain disanjung layaknya seorang pahlawan. Itulah dunia gim bagi anak-anak, sangat apresiatif.

Bagaimana dengan dunia nyata ?
Menurut Rheinald Kasali (2018) budaya pengajaran kita masih sangat gemar menghukum. Orang tua gemar menegur, juga instruksi guru yang satu arah dan kadang kala tidak jelas. Ketika anak melaporkan bahwa nilai ulangannya jelek, orang tua dan guru cenderung bereaksi berlebihan seperti memarahi atau bahkan menghukum.

Berbeda dengan dunia gim yang tidak mengenal hukuman. Sebaliknya, anak anak ditantang mencoba lagi dan lagi, begitu terus sampai berhasil. Hal tersebut sangat jarang terjadi di dunia nyata.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika hasil ulangan anak bagus dan mendapat nilai 100 misalnya, apakah ada apresiasi yang berlebihan? Tentu kita dapat menilainya sendiri. Sekali lagi, dunia nyata berbeda dengan dunia game yang memberikan apresiasi luar biasa dan ketika gagal justru ditantang mencoba lagi.

Begitulah sejak kecil kita dibesarkan dan membesarkan anak dalam lingkungan yang miskin apresiasi. Alhasil justru begitu sulit memuji dan mudah sekali mengkritik. Bahkan bisa jadi kita sering mencari-cari kesalahan orang lain.

Semoga kita semua bisa menjadi lebih baik. Terutama kita yang berprofesi sebagai pendidik. Agar lebih dapat memahami kebutuhan murid dalam belajar dan tidak serta-merta menyalahkan siswa yang kecanduan gim.(*)