Oleh: Gusti Riandi
(suka guyon dan senang di desa)

Sampai kapan wabah COVID-19 melanda dunia dan Indonesia? Jika sekarang kebebasan berkumpul harus mengalah demi mencegah penyebaran wabah, kapan kita bisa berkumpul lagi? Ragam diskusi dan penelitian oleh ahli dalam bidang-bidang yang berbeda dengan metodologi yang berbeda pula telah banyak dilakukan. BIN berpendapat bahwa puncak COVID-19 akan terjadi pada Bulan Juli dengan 106 ribu kasus. ITB menduga puncak COVID-19 berada di pertengahan April 2020 dengan jumlah 8.000 kasus. Sementara itu, Guru Besar Statistik UGM menduga bahwa puncak COVID-19 berada di akhir Mei dengan perkiraan 6.000 kasus. Meski beberapa lembaga berbeda pendapat dalam memprediksi jumlah kasus dan waktu puncak penyebaran, tetapi mereka memiliki satu argumen yang sama, yaitu “jumlah di atas bisa jadi lebih parah apabila pemerintah tidak melakukan intervensi lebih cepat dan tepat dalam mencegah penyebaran COVID-19”. Artinya, hilal kebebasan berkumpul akan datang lebih lama dari harapan kita semua.

Bicara soal hilal, penentuan hilal menjadi sangat penting untuk menentukan kapan terakhir umat muslim terakhir berpuasa dan kapan umat muslim merayakan Idul Fitri. Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk mereduksi sistem kalender hijrah dari fungsi hilal tersebut. Penggunaan istilah “hilal” saya gunakan untuk menelaah makna “hilal” dari berakhirnya Pandemi COVID-19 ini karena pada saat bersamaan kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Salah satu narasi ekstrem yang saya temukan dalam merespon kondisi ini adalah “tidak hadirnya Tuhan dengan segala macam keberpihakannya” terhadap umat manusia.

Mari kita kembali pada diskusi soal hilal dan misi utama dari artikel singkat ini. Secara etimologi, kata hilal berasal dari kata hala-yuhillu-ihalan. Makna asalnya dari ihlal rafu al-saut yang berarti “mengeraskan suara”. Orang yang mengeraskan suaranya sering disebut dengan muhillun. Ahalla bilhajj artinya orang yang berhaji mengeraskan suaranya ketika membaca talbiyah. Istahalla al-sabiyyu sarihan, artinya seorang bayi menangis keras ketika dilahirkan. Lalu apa hubungan hilal dengan mengeraskan suara? Padaa zaman Nabi, orang-orang Arab terbiasa memekikkan suara seraya bertakbir dan berdoa setiap melihat hilal, yaitu hari pertama kemunculan bulan baru dalam kalender hijriah.

Dalam setiap moment Idul Fitri, kita bisa menemukan ragam interpretasi dari waktu datangnya hilal. Begitu pula dalam praktek yang lebih luas, kecuali dalam hal akidah, terdapat banyak interpretasi umat Islam mengenai muamalah duniawiyah. Kegagapan kita dalam memahami musibah atau bencana hanya akan berujung pada kesalahpahaman dalam memahami hubungan Islam dan suatu fenomena. Karena sebenarnya Islam sendiri memiliki justifikasi dalam sumber-sumber hukumnya.

Hal ini mengantarkan kita pada pertanyaan bahwa cara berpikir Islam seperti apa yang relevan dalam melihat fenomena untuk menjawab tantangan-tantangan pesimisme ditengah wabah corona ini? Nalar seperti apa yang perlu dibangun untuk menjawab dan memahami realitas sosial? Dalam konteks ini, saya mengajukan salah satu cara berpikir alternatif yang keluar dari justifikasi bahwa bencana adalah hukuman Tuhan kepada umat manusia karena telah ingkar dengan melakukan perbuatan dosa dan maksiat.

Jika kita membaca literatur-literatur kebencanaan, terdapat pergeseran cara pandang ketika melihat bencana. Pada hakikatnya, bukan siklus alam yang melahirkan bencana. Perilaku dan respon manusia-lah yang telah membuat seakan-akan alam memiliki siklus bencana. Oleh karena itu, apa yang disebut sebagai bencana bukanlah gejala alam yang kemudian menggangu eksistensi manusia, tetapi interaksi manusia dengan alam, bisa jadi, tidak dilakukakn secara bertangung jawab. Misalnya, dominasi manusia terhadap pembangunan ekonomi telah mengorbankan efek-efek keberlanjutan alam dalam jangka panjang.

Memperluas cara pandang kita dalam melihat bencana adalah dengan cara berpikir kritis dengan tidak hanya membongkar kemapanan material tetapi juga merekonstruksi tatanan kemanusian. Islam mengajarkan kita untuk kritis dalam membaca tanda-tanda perubahan alam yang ditunjukan oleh Allah SWT. Islam juga mengajarkan bagaimana beragama yang ilmiah, Dengan demikian, keberadaan virus corona ini memberikan hantaman keras kepada kita semua bahwa dibalik ketakutan, Tuhan mengajari kita bahwa kehadiran-Nya tidak melulu berada pada saat keramaian. Bencana justru menunjukkan bahwa Tuhan juga hadir dengan pertolongannya di tengah-tengah bencana yang melanda manusia. Dengan satu syarat, manusia sendiri harus berusaha untuk keluar dari situasi bencana dengan strategi dan upaya kongkrit dan melakukan refleksi secara komprehensif atas bagaimana manusia memperlakukan alam ini.

Saya ingin kembali pada refleksi yang saya ajukan di awal tulisan ini mengenai hilal. Bisa jadi, benar bahwa “hilal” adalah kemenangan yang kita tunggu untuk mengumandangkan takbir dan berdoa. Hilal adalah cara berpikir kritis yang menjadi langkah awal untuk memahami musibah secara proposional dan ilmiah. Hilal juga selalu berpesan kepada kita untuk selalu optimism karena selalu ada kemenangan dibalik ujian-ujian yang diberikan-Nya.