“Education is the most powerful weapon whichyou can use to change the world” begitulah menurut Nelson Mandela bahwa seharusnya pendidikan merupakan langkah awal untuk mendorong segala bentuk kesejahteraan dalam perjalanan sejarah dimuka bumi.


Pendidikan memiliki beberapa institusi pendidikan, misalnya di indonesia ada 2 insitusi pendidikan formal dan non-formal, institusi pendidikan formal diantaranya ialah sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kejuruan, Serta perguruan tinggi. Sedangkan non-formal berupa Bimbel, kursus, lembaga pelatihan, sekolah rakyat, dsb. Dalam hal ini perguruan tinggi menjadi tingkat atau strata pendidikan tertinggi dibandingkan institusi pendidikan lain, maka dari itu perguruan tinggi juga menjadi tolak ukur dalam perkembangan pendidikan di negara ini.

Perguruan tinggi merupakan institusi pendidikan tertinggi di indonesia. Perguruan tinggi juga menurut sejarah hadir untuk memenuhi kebutuhan negara dalam hal pembangunan ekonom, politik, sosial-budaya, serta hukum di ibu pertiwi. Tapi kini Perguruan Tinggi sudah jauh dari tujuan awal terbentuknya institusi ini, melainkan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan komersialisasi dalam bentuk jasa, misalnya perguruan tinggi di jerman menyesuaikan bentuk pendidikan tinggi dengan kebutuhan negara, yangmana di jerman pendidikan merupakan toritas penuh oleh pemerintah federal, yang nantinya sistem pendidikan, managejemen pendidikan, serta kurikulum pendidikan yang di sesuaikan peraturan negara bagian dan kementrian negara (Saifullah isri, 2015).

Indonesia bertolak belakang dengan hal tersebut, seperti pemilihan jurusan yang terlalu banyak yang menurut saya sangat komersil sekali, misalnya jurusan HI selalu ada di setiap lembaga pendidikan tinggi yang lebih mengutamakan jumlah peserta didik dan akreditasi yang di berikan BAN-PT yang sebenarnya juga tidak terlalu berengaruh untuk kemajuan bangsa dan negara. Disisi-lain peserta didik harusnya berperan penting untuk kemajuan bangsa dan negara, tapi justru kebanyakan yang di lakukan para peserta didik tidak menjadi kritis dalam menanggap isu populis, maupun realitas yang di alami oleh dirinya, lingkungan sekitar, maupun negara sekalipun. Peserta didik hari ini malah sibuk dengan urusan urusan yang naif, padahal hal hal naf tersebut juga bisa digunakan untuk mengasah kemampuannya untuk menjadi calon cendikiawan muda yang berguna untuk menggapai kesejahteraan dan keadilan untuk bangsa dan negara. Dilansir oleh New York Times, bahwa dikatakan indonesia merupakan negara yang masyarakatnya adalah masyarakat yang santai, seperti kebanyakan melakukan kegiatan nongkrong. Sedang dalam sejarahnya perguruan tinggi di bentuk berdasarkan peniggalan intitusi pendidikan tinggi Belanda yakni STOVIA walaupun dalam perjalannya untuk menopang kekuasan kolonial belanda, akan tetapi oleh pergerakan nasional institusi ini di bentuk untuk membangun kesejahteraan dan kedaulatan negara pada masa itu.

Dalam perjalanan sejarah pendidikan di indonesia juga tidak seindah bunga edelweiss yang bisa tumbuh dengan indah di atas puncak gunung dengan segala keindahannya, malah pendidikan indonesia terlihat seperti bunga Antirrhinum yang terlihat seperti tengkorang yang hilang harapan dan kebebasanya. Pendidikan indonesia pada era Orde Baru mulai di masuki oleh era Imperialisme asing yang mana persiapan untuk memasuki era itu sangat merugikan beberapa pihak seperti masyarakat, dan juga kedaulatan negara ini. Dimulai dengan pembuatan UndangUndang Penanaman Modal Asing (1967), berlanjut dengan kebijakan World Trade Organization (WTO) yang mengeluarkan Perjanjian barang dan jasa ( GATT & GATS ) yang terdapat sektor pendidikan di dalam perjanjian tersebut harus di komersilkan, dan Undang- Undang Perguruan Tinggi (2012) yang didalamnya mengatur bahwa mengharuskan beberapa institusi pendidikan tinggi untuk mengatur dirinya sendiri yangmana pasal ini berimplikasi pada pemerintah yang lepas tangan terhadap keberlangsungan pendidikan yang memang harusnya menjadi sektor publik sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu dengan paparan diatas pendidikan tinggi indonesia haruslah seperti apa? Sedang dalam proses pendidikanpun peserta didik yang masih di suguhi metode pembelajaran yang pedagodi dimana peserta didik tidak diperbolehkan untuk sebebas-bebasnya mengkaji ilmu pengetahuan. Disisi lain peserta didik yang di suguhi realitas yang mana sangat kapitalistik, seperti pola hidup yang serba instan.

Menilik sedikit tentang perbandingan sistem pendidikan di Indonesia dan Finlandia, dilansir di media intanfarhanaa.wordpress.com bahwa menurut pengalaman pribadinya pengaplikasian sistem pendidikan di finlandia yang terbagi menjadi beberapa metode dalam penyampaian matakuliah, salah satunya yang membuat saya tertarik ialah adanya self-study, reading circles, dan online courses. Dimana dalam metode tersebut mahasiswa benar-benar di asah dalam kemapuan study yang diambil secara intensif dalam metode face-to-face antara dosen dan mahasiswanya. Disini menunjukan bahwa sebebas-bebasnya dalam menentukan study yang diambil, haruslah dengan pendekatan pribadi dan sesuai dengan potensi diri, dan ini yang di bentuk dalam sistem pendidikan di finlandia mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Berbeda dengan indonesia yang notabene mahasiswa diberikan kebebasan dalam menentukan study dilepaskan begitu saja dalam mencari ilmu, dan ketika dalam proses pengajaran mahasiswa juga tidak bisa mengutarakan sebebas-bebasnya pendapat yang ia cari dengan jerih payahnya sendiri. Apakah sistem pendidikan ini yang membebaskan pendidikan? Apakah metode pengajaran ini yang memang relevan dengan mahasiswa yang nantinya akan meneruskan perkembangan bangsa dan negara? Harusnya ini menjadi lubang pengingat yang harusnya diperbaiki hingga langkah yang dipijak terasa nyaman dan tetap sejalan dengan apa yang digagaskan oleh leluhur bangsa.