Penulis : Reyhan Majid


            Pagi ini aku bangun terlampau siang lagi. Hal ini dibuktikan dengan ibuku yang telah  mengambil alih tugas ayam jago atau toa masjid yang seharusnya membangunkanku di pagi hari. Dengan suara keras ia berteriak seraya menarik selimut yang masih menutupi tubuhku dari dada ke ujung kaki. “Bangun pemalas! Matahari sudah naik hampir diatas kepala. Bangun atau rezekimu dipatok ayam!”.

            Aku masih setengah sadar, tapi harus segera memaksa tubuhku berjalan untuk pergi mencuci muka atau ibuku akan mengomel lagi. Prediksiku benar, belum saja sampai kamar mandi, ibuku sudah mengumpat lagi. “Kamu pemuda dan kalah dengan semangat petani yang sudah sejak pagi sibuk di sawah”. Sembari mencuci muka aku menyimpulkan dua premis diatas bahwa rezeki petani tidaklah dipatok ayam karena sudah sejak pagi ia sibuk di sawahnya. Tapi apakah begitu, apakah rezekinya betul-betul utuh, aku sedikit skeptis.

              Teman-teman sebayaku tidak banyak yang mengidolakan petani apalagi bercita-cita menjadi demikian. Mungkin alasannya cukup matrialis, atau pertimbangan-pertimbangan gengsi yang kemudian cukup menggambarkan kondisi petani. Lepas mencuci muka aku sudah langsung diarahkan untuk menuju meja makan. Ibuku memasak cukup banyak siang ini. Aku duduk di meja makan, dan masih memikirkan petani. Aku penasaran dengan berbagai macam premis tentang petani, dan ingin melihatnya langsung di sawah. Aku ingin tahu lebih jauh, sebesar rasa penasaran bayi kepada kucing yang mengeong.

            Televisi sudah menyala sejak sebelum aku duduk tadi. Penyiar berita yang berpakaian rapih dan berkepala botak sudah mengoceh entah sejak kapan. Aku sudah selesai memenuhi piringku dengan nasi, sayur, tahu, dan tempe, sambal serta sedikit taburan garam ketika problem petani lokal mencuat dari mulut Si Botak. Problem yang disampaikan dari mulut komunikator yang sebetulnya tidak peduli menuju kuping komunikan yang lebih tidak peduli. Tapi bersyukur pagi ini aku kena umpat dua kali oleh ibuku yang membuat aku lebih peduli kepada petani. Meskipun hanya sebatas ingin melunasi rasa penasaranku.

Tapi karena hal itulah aku lebih memilih mendegarkan Si Botak siang ini daripada buru-buru menghabiskan makananku. Hampir 60% stok beras menumpuk di Gudang Bulog. Menyebabkan hasil tani beras di beberapa daerah penghasil beras di Jawa tidak kunjung terbeli. Masalah diperparah dengan keputusan pemerintah yang secara membabi buta terus melakukan impor beras. Siapa yang tak tergiur dengan impor, ada banyak peluang kebocoran anggaran yang mampu digunakan untuk memperkaya diri. Belum selesai disana ternyata petani sayur, kedelai, cabai dan garam juga sudah mengantre untuk dijual kemelaratanya di layar kaca.

Di industri per-televisian dan hiburan kita, kemiskikan, hantu dan hal mistis serta urusan selangkangan masih menjadi micin yang tak tergantikan di dapur produksi. Petani-petani yang antre ini juga punya segudang masalah yang tak kalah pelik. Gagal panen, hama, ketidakpastian harga sampai pemotongan subsidi pupuk telah menghancurkan mereka. Produksi petani lokal turun drastis, hingga pernah mencapai 30%. Petani yang mengantre tadi juga menjelaskan saat diwawancarai bahwa dengan pemotongan subsidi pupuk hampir 50% bisa membuat situasi makin memburuk. Cukup untuk memastikan anak-anak mereka tidak mampu menyamai gaya hidup masyarakat kota, apalagi menyekolahkan mereka.

Jeda iklan tiba. Para petani yang mengantre tadi dipersilahkan bergulat dengan kemelaratannya lagi. Sementara Si Botak sibuk mendapat briefing dari penanggung jawab acara untuk memilah kemiskinan mana lagi yang laku dijual. Di jeda ini makananku belum juga se-sendokpun masuk kemulutku. Sambil menunggu jeda iklan, aku membuka ponsel ku. Sejak bangun tadi aku belum membuka ponselku. Aku juga tidak ingin ketinggalan tweet pacar ku yang sejak semalam terlibat cek-cok denganku. Cukup membuatku tidur larut dan bangun siang.

Sebelum betul-betul meneliti tweet pacarku, aku sudah terlanjur teralihkan dengan beberapa kabar tentang perampasan lahan di penjuru negeri. Urut sewu yang di pagari lahan pertaniannya oleh tantara. Kendeng yang di pukuli aparat. Sampai beberapa catatan yang mengingatkan tentang Petani Kulon Progo yang dipaksa menyerah oleh terror terus menerus diatas lahan produktifnya sendiri. Sudah di kebiri secara ekonomi oleh negara sendiri. Sekarang harus berhadapan dengan militer bersenjata lengkap yang menginjak-injak lahan mereka. Sudah jatuh tertimpa peluru, sudah susah kemudian dibunuh.

            Kemudian aku teringat obrolan disalah satu forum diskusi dikampusku. Seseorang yang mengaku pernah mengadvokasi petani di beberapa daerah menjelaskan beberapa fakta. Petani juga punya problem internal yang cukup layak disebut sebagai penyakit menahun. Petani tak kunjung memiliki rasa percaya diri untuk mampu menjual hasil buminya sendiri. Rantai ekonomi yang terlampau Panjang menyebabkan mereka terus diperas tenaga dan keuntungannya. Dari tengkulak 1 ke tengkulak 2 lalu ke tengkulak 3 baru sampai dipasar.

Dipasar masih harus pula berhadapan dengan pedagang curang dan culas. Itu masih belum seberapa, ganasnya mafia pertanian bukan main, sehingga kehadiranya bagaikan  Buto ijo bagi Timun Mas. Negara juga telah mampu merenggut kemandirian mereka. Sehingga jelas ketika subsidi diancam dipotong bahkan dicabut mereka kelimpungan. Tak terasa acara berita di televisi sudah dimulai. Dan aku kehilangan kesempatan untuk stalking tweet pacarku, aku harus segera fokus kembali kepada Si Botak.

Setelah antrean panjang petani miskin tadi berita sudah berganti. Kali ini dengan badan yang lebih dipaksa tegap dan senyuman lebar Si Botak mulai membacakan Keberhasilan pemerintah. “Produksi pertanian kita di prediksi akan naik di kuartal keempat ekonomi Indonesia. Hal ini dimungkinkan terjadi karena adanya dana hibah dari Negara Pendonor guna meningkatkan pertanian kita. Sebuah langkah yang cerdas dari pemerintah kita!”. Berita itu cukup memberiku alasan untuk mematikan televisi.

            Sekarang aku kembali berhadapan dengan piringku yang penuh dengan berbagai  lauk pauk. Piring yang sudah kuabaikan hampir 45 menit untuk Si Botak, twitter dan balada petani kita. Rasa lezat dan nafsu makanku telah bergeser menjadi renungan singkat dihadapan piringku. Aku mulai menggumam. Nasi, sambal, sayur mayur, olahan kedelai dan garam ini tidaklah sekedar hasil keringat petani kita. Tapi juga darah, jeritan, tangis dan demonstrasi petani kita demi keutuhan ruang hidup mereka.

 Belum juga kusantap, ibuku sudah mengomel lagi. Ini kali ketiga. Kali ini bunyinya begini, “Itu nasi dan lauk kalau tak kau habiskan mereka akan menangis”. Persis yang sering dikatakannya saat aku masih kanak-kanak dahulu. Sekarang aku menerima omelan ketiga ini agak filosofis. Mungkin tangisan nasi dan lauk ini jika tak dimakan, merupakan perwalian bagi para petani yang menangis lebih dulu sejak masa tanam. Makanan segera kuhabiskan. Aku habiskan sebagai bentuk solidaritas terkecilku untuk mereka yang sudah habis diperkosa negara sendiri. Untuk lahannya yang dirampas untuk pembangunan umum. Untuk keuntungannya yang dipotong panjangnya rantai ekonomi. Serta untuk figur kepahlawanannya yang dirampas oleh pejabat berdasi yang kepalanya mengalami kebotakan dini.

            Makanan telah habis. Dan mungkin setelah siaran berita tadi, para petani juga sudah dihabisi. Lahannya, masa depannya, atau mungkin nyawanya. Untuk renungan meja makan siang ini, aku berkomitmen bahwa setiap makanan yang kuhabiskan adalah bentuk solidaritas terkecilku untuk mereka, petani. Mereka yang mampu menyediakan segala makanan di meja makan kita. Tapi mereka juga yang mati kelaparan di atas sawahnya sendiri. Siang ini aku melihat petani dari meja makanku sendiri.