Pada awal penyebaran virus Covid-19 di Indonesia, Pemerintah Kabupaten Belitung bekerjasama dengan para pemuda yang tergabung dalam tim Rumahawan.

Kerjasama tersebut buat mengembangkan aplikasi Fight Covid-19 yang bisa memantau keberadaan orang yang baru tiba di Pulau Belitung, baik melewati transportasi udara maupun laut. Sehingga mereka dapat dipastikan melakukan isolasi mandiri dan tidak keluyuran kemana-mana. Tentunya ini berguna sebagai langkah pencegahan penyebaran virus Covid-19.

Aplikasi itu dinilai efektif membantu kinerja gugus tugas Covid-19 di Kabupaten Belitung dalam mencegah dan mengontrol penyebaran virus corona di Negeri Laskar Pelangi. Akan tetapi, bagaimana kelanjutan aplikasi tersebut setelah pandemi berakhir atau zero case (nol kasus)?

Kalau orang Jawa bilang mungkin akan muspro alias sia-sia. Karena jika dilihat dari segi investasi, dana yang telah digelontorkan membangun aplikasi tersebut akan mengendap atau tertanam begitu saja. Serta tidak lagi bermanfaat bagi pelayanan masyarakat.

Meskipun biaya yang dikeluarkan untuk membangun aplikasi tersebut mungkin tidak sampai satu persen dari dana penanganan Covid-19 di Kabupaten Belitung, tetap saja kalau akhirnya tidak lagi bermanfaat akan menjadi kerugian.

Bagaimanapun dana yang digunakan untuk membangun aplikasi tersebut bersumber dari negara. Uang negara (utang luar negeri) adalah uang rakyat. Meskipun penyebaran virus SARS-CoV-2 masih masif di sejumlah daerah di Indonesia, Pemkab Belitung dan pengembang aplikasi sudah harus memikirkan mau dibawa kemana hubungan kita aplikasi Fight Covid-19 ini.

Apakah akan dibiarkan menghilang seiring menghilangnya virus corona dimasa mendatang? Atau dikembangkan dan dialihkan buat kepentingan lain. Misalnya dapat dikembangkan sebagai aplikasi untuk memantau kinerja aparatur sipil negara (ASN).

Seperti halnya aplikasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari yang hampir serupa dengan aplikasi Fight Covid-19. Yang digunakan sebagai absensi pegawai dan memantau pergerakan pegawai selama jam kerja dan bagi pegawai yang sedang melakukan Work From Home WTF WFH di masa pandemi.

Aplikasi yang digunakan oleh Pemkot Kendari juga merupakan pengembangan dari aplikasi yang sebelumnya berfungsi untuk menangani Covid-19 seperti yang ada di Belitung. Akan tetapi karena mendapatkan respon kurang baik dari pasien maupun masyarakat, akhirnya aplikasi tersebut dikembangkan untuk memantau pegawai dilingkungan Pemkot Kendari. Juga sebagai pengganti presensi finger print yang dinilai dapat menjadi penyebaran virus Covid-19.

Selain itu, aplikasi tersebut dilengkapi gelang hijau dan kode batang (barcode) yang juga anti kritik air dan sobek. Serta pegawai yang datang terlambat akan mendapatkan notifikasi kuning di ponsel pintarnya sebagai keterangan waktu keterlambatan. Sedangkan pegawai yang bekerja dari rumah akan mendapatkan notifikasi merah jika meninggalkan wilayah rumah melewati radius 50 meter.

Karena sudah ada contoh yang baik di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, sebaiknya Pemkab Belitung dan pengembang aplikasi Fight Covid-19 mulai memikirkan untuk melakukan pengembangan aplikasi. Supaya aplikasi tersebut tidak hilang begitu saja seperti rasa sayang kepada mantan. Juga agar segera melakukan studi banding ke Kendari biar anggaran perjalanan dinas bisa keluar bos kan lumayan, sekalian jalan-jalan di tengah pandemi. Ibarat kata pepatah sambil jalan-jalan menghirup corona sambil menyelam minum air laut.