Oleh : Agustari, S.M


Kita telah memasuki tahun 2021 sudah hampir menginjak akhir di bulan januari, yang artinya kita telah meninggalkan tahun 2020 tetapi masih merasakan suasana yang sama bersama pandemi dengan segala dinamika yang terjadi di dalamnya. Keadaan ini barangkali membuat banyak orang merasa frustasi , dimana secara global kita mengalami krisis ekonomi dan krisis kesehatan tentunya. Kita seakan-akan dituntut untuk segera beradaptasi dan berdamai dengan keadaan. Seiring berjalannya waktu ternyata sebagian besar dari kita mampu untuk survive menjalani hari-hari. Sebagian yang lain bahkan malah banyak menerima berkah terselubung. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga banyak korban berjatuhan. Di sisi lain, ketidakpastian ini ternyata telah mengajarkan kita untuk lebih waspada dan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Secara tidak langsung, ternyata kita telah banyak belajar dari situasi ini.

Tahun 2020 Sebagai Momen Sabatikal Warga Dunia, Akankah Berlanjut di Tahun 2021

Melihat apa yang terjadi hampir selama satu tahun belakangan ini saya jadi teringat akan sebuah istilah, yaitu ‘sabatikal’. Istilah tersebut berasal dari Bahasa Ibrani dan cukup melekat dengan konsep sistem kepercayaan disana. Secara umum sabatikal dapat dimaknai sebagai laku memberi jeda atas sebuah rutinitas kehidupan, pada konsep aslinya berlangsung setiap pekan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu konsep ini digunakan dalam konteks global dan dimaknai sebagai masa untuk merefleksikan diri atau lebih dikenal dengan rehat. Di dunia akademik di beberapa negara kita juga bisa menjumpai istila sabbatical leave, sebuah aktifitas yang dilakukan oleh dosen saat mengambil rehat/cuti beberapa waktu dari aktifitas mengajar dan memanfaatkan waktunya untuk merenung. Dalam masa perenungan inilah biasanya mereka diberikan tanggung jawab untuk menghasilkan sebuah hasil renungan berupa karya ilmiah yang tak jarang hasilnya begitu bagus. Selain di dunia akademik, sabbatical leave banyak dilakukan oleh para filantropis menjalankan laku meninggalkan rutinitas harian untuk membagi apa yang dimiliki kepada orang lain, biasanya ia memilih hidup dan tinggal pada suatu tempat (live in) dalam jangka waktu tertentu untuk membagikan apa yang dia miliki.

Saya juga menganggap tahun 2020 kemarin merupakan tahun sabatikal dimana kita diminta untuk mengurangi aktifitas, banyak-banyak dirumah, dan membatasi diri atas pertemuan fisik. Seakan ini merupakan momen bagi bumi untuk me-recharge kembali tenaganya dan meminta kita untuk berefleksi. Memaknai apa yang telah kita lewati, apa yang sedang dijalani saat ini, dan merencanakan dengan baik apa yang akan datang. Karena bisa jadi di tahun 2021 ini masa-masa sabatikal akan terus berlanjut dengan intensitas yang masih belum bisa di prediksi tinggi atau rendahnya. Momen seperti ini memberikan kita kesempatan untuk memberik jarak, memberik jeda pada rutinitas kehidupan yang sebelumnya menghanyutkan kita pada sebuah pusaran kehidupan dunia yang deras.

Aktifitas di Masa Sabatikal, Kreatifitas Pemuda Mendorong UMKM Pemula

Ditengah kondisi krisis ekonomi yang melanda, sebagian dari kita memanfaatkan waktu untuk lebih berpikir kreatif dan inovatif agar perekonomian bisa stabil. Terutama yang sangat menonjol secara masif adalah munculnya UMKM pemula yang dilakukan oleh para anak-anak muda yang secara spontan membangun usaha-usaha yang beranekaragam dengan memanfaatkan media teknologi informasi yang turut mengambil andil dalam menunjang usaha yang mereka lakukan. Ini menunjukkan bahwa kondisi sabatikal yang terjadi akibat dari dampak pandemi, memicu semangat para anak muda serta masyarakat untuk terus berjuang memperbaiki perekonomian yang sempat mundur, menjadi semangat untuk memanfaatkan ‘setitik cahaya di lorong yang gelap’ yang bisa menggambarkan semangat masyarakat tersebut. Hal ini juga diakui oleh Dinas terkait dengan melihat semakin banyaknya UMKM yang mulai menjamur yang merupakan penopang perekonomian di tengah pandemi saat ini. Bukan hanya pada tahun 2020 yang lalu, di tahun 2021 ini pun geliat semangat akan terus berlanjut untuk bisa membangun sebuah perekonomian yang sustainable, sehingga ekosistem yang telah ter-polarisasi ini bisa terus berkembang dan terbangun secara baik dan kuat untuk menjaga kestabilan perekonomian masyarakat yang entah sampai kapan pandemi covid-19 akan berakhir, tidak ada yang tahu!