“ketundukan budaya adalah lebih mudah dianut dan lebih sukar disingkirkan ketimbang ketundukan ekonomi.” (Richard Hoggart)



Dalam sejarah ilmu pengetahuan bahwa manusia selalu bergerak bersesuaian dengan kondisi perkembangan peradaban ummat manusia, dari sejarah klasik hingga modern telah menjadi skenario pikiran para filsuf dengan narasi peri-kemanusiaan. Epos sejarah dengan kekuatan mistik dan penuhanan dewa-dewa dizaman klasik hingga pencerahan di era skolastik telah membawa angin baru bagi perkembangan pengetahuan manusia, yakni bergeraknya mitologi—ke arah power knowledge. Dan Yunani klasik telah menyuguhkan itu dalam rentan sejarah yang demikian panjang.

Sehingga dalam pohon ilmu pengetahuan, tergambar dengan jelas pembagian secara skematis—dimana pada ilmu sosial, sosiologi, antropologi dan psikologi diklaim sebagai bapak dari ilmu pengetahuan—namun seiring perkembangan ilmu sosial di mazhab Frankfurt yang dianggap kritis dari pikiran Mark Hokeimmer, Adorno dan pengampuh sosial kritis lainnya. Karena itu, pperkembangan ilmu sosial sangat beriringan dengan pikiran pengagumnya mulai Socrates hingga pemikir era modern, katakanlah seperti Rochard Hoggart yang terlibat dalam proyek “Culture Studies”.

Richard Hoggart tokoh dengan karya terkenalnya The Uses of Literacy (1957) ini merupakan salah satu nama yang mengisi halaman buku-buku teks dasar dalam cultural studies. Bersanding bersama R. Williams dan E. P. Thompson namanya menjadi “mantra” dalam proyek cultural studies awal yang berupaya mempertahankan budaya kelas pekerja dalam struktur sosial masyarakat Inggris, yakni. Namanya telah mapan di pintu gerbang kajian budaya yang spesialisasinya kehidupan orang-orang “sepi” ini. Tradisi ‘budaya dan masyarakat’ Hoggart-Williams-Thompson menjadi mapan dalam apa yang disebut dengan Mazhab Birmingham.

Setelah mengawali karir akademisnya sebagai tutor pendidikan di Universitas Hull, pamornya mencuat ketika sebagai dosen Sastra Inggris ia bersama Stuart Hall (l. 1932) mendirikan Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Universitas Birmingham, 1964 di Inggris. Fokus perhatian pusat kajian budaya ini terarah pada upaya menelusuri pertanyaan-pertanyaan kritis tentang konstruksi budaya, pengetahuan, bahasa, kuasa, sejarah, politik, ideologi, dan identitas. Kontribusi utama dari Mazhab Birmingham (lih. Kellner dalam McGuigan: 1997) ini adalah membawa kajian budaya memasuki tema-tema kebudayaan yang marjinal dan “hal yang kecil-kecil” seperti budaya kaum muda, fesyen, musik, budaya olah raga, atau karya-karya fiksi. Tak heran kalau sampai tahun 1990-an tema-tema BC masih tetap aktual dan menyebarkan semangat baru terhadap kajian budaya di seluruh dunia.

The Uses of Literacy, sebagai Masterpiece Hoggart, memiliki peran penting dalam upaya penelusuran karakter budaya kelas pekerja Inggris yang terpinggirkan (lih. Storey: 1993). Secara umum, buku ini terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian ‘tatanan “lama”’, yang menggambarkan budaya kelas pekerja, kelompok sosial yang terpinggirkan, yang merupakan bagian dari masa kecil Hoggart (1930-an); dan bagian ‘menuju arah baru’, yang melukiskan bagaimana budaya kelas pekerja tradisional terancam oleh bentukbentuk hiburan massa(l) yang baru pada tahun 1950-an. Di satu pihak, terdapat suatu ‘budaya yang (di)hidup(i)’ oleh Hoggart sendiri, budaya yang tradisional pada tahun 1930-an.

Di pihak lain, terjadi kemerosotan budaya di tahun 1950-an. Deskripsinya tentang budaya kelas pekerja tahun 1930-an, yang datanya diambil dari kenangan masa kecilnya, tentu saja tak terlepas dari nostalgia pribadi, namun sebagai data tulisannya sangatlah penting. Ia menandaskan bahwa keterangannya tentang budaya lama tersebut bukanlah memuja tradisi pedusunan yang dikonsepsikan secara kabur tapi menyajikan data tentang budaya lama yang dialaminya secara pribadi dimana jarang terdapat tulisan yang mengulasnya secara apresiatif.

Apa yang dilakukan oleh Hoggart ini tak pelak merupakan suara garang terhadap Leavisisme. Leavisisme, aliran kajian budaya yang didirikan oleh F. R. Leavis, dalam hal budaya menganut pandangan bahwa budaya adalah titik puncak peradaban dan merupakan perhatian minoritas terpelajar (Barker: 2000). F. R. Leavis menyatakan bahwa sebelum terjadinya revolusi industri, Inggris memiliki budaya rakyat umum yang otentik dan budaya minoritas elit yang terpelajar. Baginya, inilah masa keemasan ‘masyarakat organik’ dengan ‘budaya yang hidup’ dalam ‘lagu-lagu Rakyat dan tarian Rakyat’ yang kini telah hilang karena ‘standardisasi dan penurunan’ akibat adanya budaya massa(l) yang ter(di)industrialisasi. Setidaknya, Hoggart bertentangan dengan Leavisisme dalam dua hal mendasar, yaitu bahwa budaya itu bukanlah semata konsepsi estetis dan elitis, dan, sebagai konsekuensinya, kalangan bawah pun memiliki budaya yang hidup. Di belahan bangsa Melayunesia—-bisa disebut sebagai tradisi lokal yang kemudian disebut kearifan lokal.

Penting dicatat bahwa proyek Hoggart bukanlah menyerang kemerosotan ‘moral’ dalam kelas pekerja an sich, tapi kemerosotan dalam ‘keseriusan moral’ pada budaya yang diperuntukkan bagi kelas pekerja. Dia mengulang-ulang sejumlah kejadian-kejadian yang mengungkapkan keyakinannya akan kemampuan kelas pekerja untuk menahan banyaknya manipulasi dalam budaya massa. Baginya kemampuan kelas bawah ini bukanlah semata kekuatan resistensi yang pasif, tapi sesuatu yang, walaupun tidak artikulatif, positif. Kelas pekerja memiliki kemampuan alamiah yang kuat untuk menahan perubahan dengan mengadaptasikan atau mengasimilasikan apa-apa saja yang mereka inginkan dalam budaya yang baru dan mengabaikan yang lainnya.

Hoggart yakin sekali akan sumber daya kelas pekerja dalam merespon budaya massa, dengan tanggapan mereka yang selalu parsial karena mereka “tidak sekedar di situ” saja, tapi hidup dimana-mana, hidup secara intuitif, memiliki kebiasaannya sendiri, bersifat verbal, berpegang pada mitos, hikmah, dan ritual. Rakyat kelas pekerja, kata Hoggart, secara tradisional, atau paling tidak selama beberapa generasi, menganggap seni sebagai pelarian, sesuatu yang dinikmati tapi tidak memiliki banyak hubungan dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Seni adalah hal yang marjinal, ‘kegembiraan’, ia adalah kehidupan ‘riil’ yang berlangsung dimana-mana. Seni adalah untuk digunakan. Karena itulah, estetika kelas pekerja, atau rakyat, sangat memperhatikan rincian-rincian yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Estetika model ini berselera pada budaya yang ‘tampil’ ketimbang ‘penjelajahan’. Tidak heran kalau budaya ini tidak bisa lari dari kehidupan biasa, tetapi malahan menyelaminya karena berasumsi bahwa kehidupan biasa sangatlah menarik.

Nah, hiburan massal, menurut Hoggart, justru memotong estetika yang mantap ini. Hiburan massa(l) sesungguhnya menawarkan kesenangan-kesenangan yang tak bertanggung jawab dan maya. Budaya massa(l) bersifat merusak struktur dasar budaya kelas pekerja yang lebih tua dan lebih sehat. Bagi Hoggart, budaya kelas pekerja tahun 1930-an mengungkapkan ‘kehidupan yang meluap-luap’, yang ditandai dengan kuatnya rasa kemasyarakatan. Inilah budaya yang umumnya dibuat oleh rakyat. Memang, di sini pengertian budaya populer lebih bersifat komunal dan dibikin sendiri. Hoggart demikian bersemangat mengangkat hal ini, sampai-sampai separuh dari The Uses of Literacy memuat banyak contoh-contoh hiburan yang komunal dan dibikin sendiri.

Yang terpenting di sini adalah pandangannya tentang penyesuaian populer (popular appropriation) audiens yang memungut dari budaya populer (baca: budaya massal) apaapa yang sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, dan sejauh itu, hal tersebut bagi mereka bukanlah hal yang buruk seperti yang telah mereka lakukan selama ini. Sayang, gagasan yang brilian ini tak pernah benar-benar dimanfaatkan oleh Hoggart. Agaknya hal ini tertutupi karena bayangan pesimisnya yang lebih dominan.

Karenanya pilar kebudayaan menjadi hal yang penting bagi membangun kekuatan masyarakat sebagai identitas—identitas, pada prinsipnya akan mengarahkan pada pembangunan ekonomi sepanjang sense of crisis menjadi mindset bagi suatu bangsa.***