Secara sosiologis, perubahan perilaku atau tindakan sosial masyarakat dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan rasional.



Perilaku keagamaan, sosial, dan ekonomi masyarakat di bulan puasa Ramadhan tahun ini tampaknya akan berbeda dari aktifitas bulan Ramadhan sebelumnya. Pandemi Covid-19 akan cenderung memaksa terjadinya domestikasi perilaku keagamaan, sosial, dan ekonomi masyarakat yang mana biasanya ritus keagamaan ramai dilakukan di tempat-tempat ibadah, maka bulan Ramadhan tahun ini akan banyak bergeser ke ruang lingkup keluarga di rumah saja.

Seperti tarawih, tadarus bahkan buka bersama tidak mungkin semeriah pelaksanaan amaliah sebelumnya. Begitu juga dengan aktifitas sosial kita dalam menjalankan ritme ramadan, umumnya masyarakat akan berkumpul untuk menunggu buka puasa, hingga perilaku ekonomi masyarakat yang biasanya belanja di pusat keramaian. Kegiatan seperti ini akan mengalami penurunan tren.

Secara sosiologis, perubahan perilaku atau tindakan sosial masyarakat dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan rasional. Dalam konteks ini, masyarakat sangat bisa melakukan  tindakan keagamaan, ekonomi, dan sosial dengan perangkat atau alat yang dimilikinya seperti sebelumnya, akan tetapi untuk mengurangi risiko penyebaran dan kesehatan tubuh dari wabah, ia memilih untuk tidak melakukannya.

Televisi

Martin Suryajaya (2020) menyebut bahwa penjarakan fisik di masa wabah akan mengakibatkan perubahan dalam sektor ekonomi. De-industralisasi merupakan salah satu gejala yang akan muncul. Ia akan menimbulkan pukulan ke sektor-sektor industri padat karya, serta industri hiburan non-daring seperti kafe, restoran, mall dan tempat lainnya yang membutuhkan interaksi fisik. Semuanya, menurut Martin, akan beralih ke arah hiburan jarak jauh melalui sarana radio, televisi dan internet.

Dalam konteks ini, industri hiburan seperti televisi akan menjadi medium masyarakat untuk mengakses hiburan terutama di bulan puasa. Ketersediaan hiburan jarak jauh melalui televisi, alih-alih menjadi medium yang terjangkau di tengah wabah pada bulan ramadan, bukan tanpa menyisakan kekhawatiran.

Sebagai media yang mempunyai kedekatan (proximity) dengan masyarakat, televisi bukanlah industri polos dengan idealisme mencerdaskan kehidupan masyarakat semata. Ia juga mempunyai motif laten yang melekat, seperti kepentingan bisnis.

Motif laten ini akan terekam dalam program siaran yang kental dengan gincu tema-tema islami. Kita akan menemukan komedi, infotainment, sinetron yang dibungkus serba islami. Melubernya program dakwah dan penayangan program juga terjadi pada siaran di jam-jam hantu, waktu sahur.

Penambahan program siaran di waktu sahur semata-mata bukan untuk mengisi waktu sahur, tapi memanfaatkannya untuk mengeruk ramai pemirsa. Dengan segala macam gincu islami (preface religiosity) yang sebenarnya hiburan, akan memicu kelatahan industri untuk menyeragamkan program siaran. Inilah yang dikatakan Danang Sangga Buwana (Representasi Tayangan Televisi di Bulan Ramadhan, 2014) sebagai ideologi baru layar kaca, yaitu rating-share.

Pendapat di atas berkelindan dengan temuan Nielsen pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa penonton televisi meningkat tajam pada bulan puasa Ramadhan. Jumlah penonton televisi  meningkat dari 5,9 juta per hari menjadi 7 juta per hari. Peningkatan jumlah penonton ini, menurut Nielsen, kerap terjadi di waktu sahur.

Dengan demikian, keterjarakan fisik di tengah Bulan Ramadhan yang mengakibatkan masyarakat menghindari tempat-tempat hiburan non-daring atau membutuhkan interaksi langsung, akan semakin menempatkan televisi sebagai medium masyarakat bertumpu mengulik hiburan.

Kritis

Tepat pada tanggal 18 Maret 2020, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menerbitkan kebijakan berupa Surat Edaran tentang Pelaksanaan Siaran Pada Bulan Ramadan. Penerbitan Surat Edaran ini sebagai upaya menjamin ketersediaan program siaran di lembaga penyiaran yang mendorong kekhusukan mayarakat menjalankan ibadah puasa ramadan dan perlindungan publik sesuai dengan aturan normatif penyiaran.

informasi melalui program siaran televisi dibatasi dengan nilai dan norma, hingga agama serta aturan positif lainnya. Misalnya penggunaan Dai bersertifikasi MUI, peniadaan program siaran dengan nuansa mistik, horor, dan supranatural serta beberapa cakupan aturan lainnya.

Pendekatan ini tentu patut diapresiasi sebagai upaya pencegahan dan mendorong peningkatan kualitas penyiaran di tengah seruan diam di rumah akibat pandemi. Akan tetapi, pendekatan ini perlu dibarengi dengan kritisisme masyarakat.

Di tengah wabah Covid-19 dan posisi televisi yang semakin sentral sebagai penyedia hiburan dan informasi, penulis berharap masyarakat tidak hanya dijadikan atau memposisikan diri sebagai objek suapan informasi yang sifatnya hyper, pasif dan mendorong perilaku konsumtif. Lebih-lebih, para dai yang digunakan oleh televisi ikut serta menyisipkan informasi tentang Covid-19.

Upaya-upaya literasi yang digelar komunitas atau lembaga negara bisa digunakan sebagai perspektif memilah informasi serta tayangan dari media. Artinya, masyarakat mempunyai perangkat literatif sebagai lensa penyaring, kritis atau bahkan menolak tayangan dan informasi tertentu yang tidak sesuai dengan pengalaman dan kebutuhannya.