DALAM SEJARAH—persoalan ideologi memang selalu mengalami dsikursus yang panjang dari fase ke fase. Kenapa? Sebab soal ideologi selalu menyangkut soal identitas diri baik individu maupun kelompok. Dan sebagian orang menganggap ideologi sebagai pinsip hidup dari seseorang. Sehingga inilah yang kemudian mengundang perdebatan dimana-mana. Tetapi pada intinya ideology selalu saja disematkan pada satu entitas tertentu—seperti bangsa atau negara. Dalam perspektif negara ideology begitu diperlukan sebagai bentuk kedaulatan atas negara yang bersangkutan.

Dan sejarah pun kadang banyak ternoda karena berbagai friksi yang ada. Seperti hantu menguntit di sekitar kita. Namun hanya sedikit orang yang bisa melihatnya dengan jelas. Hantu ini bukanlah hantu lama seperti komunisme atau fasisme. Tetapi ini adalah hantu baru yang termekanisasi secara lengkap, yang patuh dan tunduk pada konsumsi yang lengkap, yakni komputerisasi, gadget, smartphone. Dalam dimensi sosial secara sadar manusia telah teralih fungsikan menjadi mesin walau hanya memiliki sedikit perasaan.

Dengan kemenangan masyarakat baru ini, sikap individualism dan privasi akan kehilangan perasaannya—terhadap oaring lain yang kemudia digerakkan dengan psikologis serta perkakas elektronik, atau oabat-obatan yang juga menyajikan pengalaman introspektif jenis baru. Sebagaimana diungkapkan Zbiginiew Brzeezinski— “dalam masyarakat tehnetronik trend tampaknya akan mengarah kepada kesatuan dukungan individual dari jutaan warga yang tak terkordinasi, yang dengan mudah berada pada jangkauan magnetis dan menarik secara efektif serta mengeksploitasi tehnik-tehnik komunikasi terbaru untuk memanipulasi emosi dan mengontrol akal budi”—

Masyarakat jenis baru ini telah diprediksi dalam bentuk fiksi dalam 1984 oleh George Orwell dan dalam Brave New World oleh Aldous Huxley. Sehingga ada hal yang tidak menyenangkan pada situasi saat ini adalah makna kehilngan eksistensial {manusia dalam arti luas), seperti pengambilan keputusan-keputusan kadang perilaku sangat ditentukan oleh computer dan lektronik yang ada disekitar kita. Sehingga manusia menjadi anomali—keanehan yang mengganggu psikologis.

Seperti awala penciptaan manusia yang diberikan akal oleh Tuhan—untuk berfikir tentunya, melanjutkan keputusan-keputusan dalam hidupnya, tetapi faktanya tidak demikian keputusan-keputusan hidup manusia sangat ditentukan oleh alat elektronik yang ada di gemnggaman atau dihadapan kita. Sehingga manusia seperti layaknya tidak lagi memiliki tujuan hidup, kehilangan esensi, manusia terancam punah oeh senjata nuklir yang sesekali menuju kearah kita.

Bagaimana hal ini terjadi?, bagaimana manusia berada pada puncak kemenangannya atas alam, menjadi tawanan bagi ciptaannya sendiri, dan berada dalam mara bahaya yang bakal menghancurkan dirinya sendiri. Sehingga manusia dalam mencari kebenaran ilmiah—manusia menemukan pengetahuan yang dapat digunakan untuk menguasai alam. Dan pada sisi yang lain manusia kehilangan sentuhan dengan dirinya sendiri. Termasuk kehidupan pada dirinya sendiri.

Dan fatalnya setelah manusia kehilangan keimanan religious serta nilai-nilai kemanusiaannya yang melekat pada diri bersamanya—maka muncul kecendrungan ia menemukan nilai-nilai material sebagai jalan keluarnya. Sangat homo economicus—manusia ekonomi. Dan manusia pada siatuasi itu kehilangan jati diri, kapasitas empiriknya, serta gerak emosionalnya—sebab asumsinya bahwa untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan menikmati keterkungkungan dan memeperoleh hasil yang maksimal untuk dimanfaatkan demi kebutuhan perut semata. Tehnologi pada dasarnya telah merampas hak kemanusiaannya demi kepuasaan fisik bukan kebahagiaan yang hakiki—seperti cinta dan syurga.

Dan pada saat itu, sistem yang paling jelek dalam diri manusia adalah bahwa fakta ekonomi kita bersandar pada lengan produksi dan industrialisasi yang merajai dunia. Pengangguran menjadi fenomena baru—akibat gerakan industrialisasi mekanik, manusai tergantikan dengan computer dan gadget. Semua dikendalikan diluar gedung dan kantor. Fece to face—semakin hilang, sikap masa bodoh boleh jadi “perilaku baru” dalam masyarakat manusia.

Karena itu, fakta sosio-kultural manusia ternyata hidup dalam klise-klise tradisional—yanh ujub menjadi manusia modern. Sulit dibayangkan bagaimana keterasingan manusia dalam jumlah besar dan meledak menjadi pengangguran berkelas ningrat. Ideologi pun mulai tergerus secara perlahan dengan ungkapan tanpa ideologi pun kita masih bisa makan. Ini kemudian menjadi campaign bagi manusia yang kehilangan esensinya. Akal sehatnya telah lumpuh diseret oleh kemajuan tehnologi. Absurd bukan—-??

Memang benar bahwa manusia modern akan mengalami beberapa pertanyaan klasik yang mengganggu, seperti alih-alih bagaimana caranya mempertahankan kearifan serta nilai ketika invasi tehnologi datang menyerang kehidupan manusia. Ada secara sadar mengatakan bahwa kita akan bertahan dengan cara manusia berfikir. Ya, ada benarnya, tetapi tak cukup dengan kekuatan pikiran bukan? Tetapi paling tidak kekuatan yang perlu menjadi pertimbangan menghadap kemajuan itu adalah—basis sosio cultural yang bisa disebut dengan istilah sense of belonging— dengan cara apa? Tentu membangun kekuatan internalisasi kemanusaan dengan mental dan iman (religion).

Dengan begitu manusia tetap harus bertahan tanpa klise-klise mengelilinginya.