Oleh : Eki Piroza


Nama Ahmad Dhani sudah tak asing dibelantika musik Indonesia. Ia dikenal sebagai leader band dan produser musik terkemuka. Banyak artis pendatang baru yang namanya melejit berkat tangan dingin musisi itu. Sebut saja Ari Lasso, Reza Artamevia, Agnez Mo, Dewi-Dewi, Ratu, The Virgin, Once, Judika, Virza dan tentu saja super band Dewa 19.

Bahkan pengamat musik Bens Leo menyebut bahwa lirik pada setiap lagu yang ditulis Ahmad Dhani selalu berkesan juga membekas pada setiap pendengar. Terutama jika berkaitan dengan cinta, falsalah hidup, dan pandangan sosial.

Ahmad Dhani memulai karir profesionalnya sebagai musisi pada 1992 silam dengan meluncurkan album bertajuk Self Titled Dewa 19. Grup band tersebut mampu menggebrak belantika musik nasional melalui lagu Kangen yang meledak dipasaran. Sampai sekarang, lagi ini dianggap sebagai lagu sakral oleh sebagian besar fans Dewa 19 yakni Baladewa.

Pada album-album berikutnya Dewa 19 terus melahirkan karya yang semakin melambungkan nama mereka. Kekuatan mereka tentu saja terletak pada komposisi musik yang kaya, warna vokal Ari Lasso, dan tentu saja lirik yang ditulis oleh Ahmad Dhani.

Perkembangan selanjutnya karena persoalan internal, Dewa 19 banyak melakukan perombakan personel. Mulai dari posisi drumer, basisst, dan vokalis. Posisi vokal Ari Lasso digantikan Once Mekel yang semakin melambungkan nama Dewa 19. Pada masa ini banyak Hits-Hits yang kembali meledak di masyarakat, sebut saja Pupus, Angin, Separuh Nafas, Pangeran Cinta, Dewi, dan lainnya.

Berdasarkan penelusuran penulis, Dewa 19 telah mengeluarkan delapan album. Republik Cinta (2006) menjadi album terakhir. Setelahnya grup band itu hanya mengeluarkan single. Setelah single Bukan Cinta Manusia Biasa (2009) Dewa 19 menyatakan diri sebagai band reuni. Lalu kemudian karena mungkin merasa tak cukup menyampaikan aspirasi melalui jalur musik, Ahmad Dhani terjun ke dunia politik.

Kiprahnya dalam perpolitikan berawal dari dukungan pada gelaran pilpres 2014 ketika ia menyatakan dukungannya kepada pasangan Prabowo-Hatta. Menurut penulis, dukungan ini diberikan Ahmad Dhani setelah Bimbim Slank memberikan dukungan kepada pasangan Jokowi-JK. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan dua leader band ini naik turun sejak dahulu.

Berikutnya Ahmad Dhani terjun langsung ke dunia politik praktis. Ia pernah mencalonkan diri sebagai Wakil Walikota Bekasi hingga menjadi Wakil Sekretaris Jenderal DPP Gerindra sampai sekarang.

Sepak terjangnya di dunia politik banyak menuai kontroversi di masyarakat. Memahami seorang Ahmad Dhani tidak cukup hanya melihat pada masa ini, pandangannya terhadap politik pernah ia tuangkan dalam karya musik.

Sebuah album yang dikeluarkan pada 1998 bertajuk Ideologi Sikap Otak (ISO). Sebuah proyek ambisius dengan mengajak beberapa musisi ternama saat itu, sebut saja Bongky, Pay Slank, Bimo Netral dan tentu saja sekutu setia Andra Ramadhan.

Album ini memiliki 11 track, dengan berbagai tembang yang menggebrak kondisi sosial tahun 1998 ketika peralihan ke masa reformasi. Seperti sindiran yang disampaikan lewat penggalan lirik single Distorsi, “Yang muda mabok, yang tua korup, jayalah negeri ini, jayalah negeri ini”. Sepenggal lirik tersebut tertanam kuat dimasyarakat kala itu.

Hingga era sekarang, warna musik seperti album itu biasanya didominasi band indie atau band yang tidak berafiliasi dengan label rekaman komersial.

Uniknya, album ISO ini terletak pada kemampuan Ahmad Dhani hingga berhasil meyakinkan bos label rekaman Aquarius Musikindo untuk memproduksinya. Sesuatu yang jarang terjadi sampai saat ini, karena biasanya label rekaman hanya akan memproduksi album yang menurut mereka sesuai selera pasar.


Musik sebagai Kekuatan Politik

Relasi antara musik dan lolitik bukan hal baru. Hal ini sering terjadi dan telah berlangsung lama diberbagai belahan dunia. Seperti pada pemilu Amerika Serikat 2008 silam. Dukungan musisi seperti Jay Z dan Beyonce kepada Obama berhasil mengantarkanya sebagai presiden kulit hitam pertama di negeri Paman Sam.

Musik telah menjadi kekuatan politik tersendiri. Hasil survei lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Desember 2013 hingga April 2014 menyatakan bahwa buat melihat elektabilitas calon presiden antara Prabowo dan Jokowi, dukungan musisi yang diberikan kepada kedua paslon ternyata memberikan efek signifikan kepada kedua paslon tersebut. Juga mempengaruhi pemilih dengan kategori swing voters dan mayoritas generasi muda memiliki ketertarikan pada musik.

Kendati musik bisa menjadi kekuatan politik, nyatanya tidak semua musisi sepakat. Penolakan tersebut datang dari band rock legendaris dari Inggris, Queen. Gitarisnya Brian May bahkan meminta calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump berhenti menggunakan lagu mereka seperti We Are The Champions untuk berkampanye. Menurut penulis, pandangan Brian May ini menginsyaratkan bahwa musik adalah musik tanpa harus dilabeli sebagai dukungan politik.

Musik dan politik adalah dua hal yang berbeda, namun akan selalu dikaitkan. Setidaknya kedepan akan banyak manuver musisi yang memberikan dukungan pada calon-calon tertentu. Hal tersebut wajar, mengingat kebebasan berpolitik dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Ideologi Sikap Otak (ISO) 1998 menjadi karya musisi Indonesia yang menuangkan pemikirannya terhadap kondisi bangsa dan menjadi satu di antara karya monumental pada masanya.

Memang dalam perkembangannya, banyak karya musik yang menyampaikan kritik sosial. Sebut saja karya-karya grup musik Efek Rumah Kaca, Seringai, dan lain-lain. Namun yang penulis garis bawahi, karya mereka bukan dinaungi oleh label rekaman komersial. Sehingga pandangan penulis, ISO 1998 menjadi satu-satunya album yang berisikan kritik sosial yang diproduksi oleh label rekaman komersial. Makanya penulis mengucapkan salam hormat untuk Ahmad Band.