Oleh : Liwa


“Kita adalah burung yang terbang atas kehendak kita sendiri dan harus bebas atas tekanan apapun”


Kali ini aku bangun dengan keadaan seperti biasanya, menilik handphone retakku dan tak kaget dengan waktu yang menujukan pukul 13.00 WIB. Hal seperti ini adalah hal yang biasa dikalangan mahasiswa di kota kecil bernama Yogyakarta, yang juga sering disebut sebagai kota pendidikan. Tentunya dengan sebutan semacam itu kita bisa melihat jumlah kampus dan mahasiswa yang begitu banyak dengan bermacam jurusan.

Bicara soal mahasiswa, juga tidak jauh dengan kata mahasiswa aktivis, dimana kawan-kawan bisa melihat, mulai dari pakaian, selera musik, buku bacaan, dan keikut sertaannya dengan organisasi yang bertujuan menyejahterkan masyarakat. Juga kritiknya yang pedas terhadap kampus, pemerintah, berikut segala hal yang menurut kawan-kawan aktivis ini tidak sesuai dengan cita-cita menyejahterakan kehidupan masyarakat. Mungkin hal-hal itu menjadi sedikit  gambaran mahasiswa yang sering disebut aktivis. Oh, tidak lupa biasanya mahasiswa dengan sebutan aktivis sering melakukan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan isu-isu tertentu. Bahkan mereka  memiliki popularitas yang lumayan di angkatannya, maupun dijurusan atau kampus, karena gayanya yang humble, juga mudah bergaul dengan siapa saja.

Dari banyak hal yang menggambarkan mahasiswa aktivis, terkadang kawan-kawan lupa menilik bagaimana intrik yang sering terjadi, baik pada diri maupun kegiatan mereka diorganisasi. Bahwa mereka juga memiliki banyak masalah hubungan antara diri dan organisasinya atau organisasi lain, bahkan pada perseorangannya. Alih-alih masalah romansa sesama kader organisasi, melainkan hal yang lebih dalam lagi soal bagaimana perasaan dia sebenarnya menjalankan dan menentukan pilihannya. Banyak kawan-kawan yang terjun dalam organisasi bertujuan untuk menambah relasi, agar di masa depan mudah melewati kehidupan selanjutnya. Sehingga banyak mahasiswa aktivis tidak mengikuti satu jenis organisasi saja. Meski ada pula yang mengikuti organisasi murni atas kepeduliannya atas ketertindasaan yang terjadi (hmmm.. jangan jangan karena doktrin seniornya aja nih). Eittsss dah suudzon mulu namun kemungkinan tersebut bisa terjadi. Perlu diketahui, banyak mahasiswa yang disebut aktivis terkadang memiliki tekanan dari berbagai sisi baik dari skala pembagian waktu antara kuliah dan organisasi juga waktu pribadi. Namun hal ini tidak menjadi masalah bagi mereka yang benar benar mengabdikan diri di jalur pembelaan ketertindasaan (eleh bilang aja demi popularitas kalau enggak biar situ dibilang rebel trus keren). Tuhan… suudzon mulu dah.

Bicara soal organisasi adalah wadah kita untuk menimba ilmu tanpa ada batasan-batasan, karena belum tentu semua ilmu bisa kita dapat di kampus. Karena kampus memiliki batasan kurikulum yang harus diajarkan, beda halnya dengan organisasi yang dalam metodenya sesuai dengan kesepakatan bersama untuk selama jangka waktu ke depan akan didiskusikan bersama. Bicara soal organisasi, tidak semua organisasi melakukan kegiatan berilmu dan menyalurkan kritik dalam bentuk dan gaya perlawanan yang sama. Bahkan setiap organisasi memiliki cara masing-masing. Bukan berarti kita harus mengklaim gerakan organisasi kita yang paling benar, karena nyatanya saat ini jika kawan-kawan telusuri yang terjadi bukanlah saling support dalam bentuk perlawanan, tapi justru saling intrik atau saling menabuh genderang perang (yah… kayak Kurawa dan Pandawa aja). Next, sebenarnya hal ini yang membuat gerakan-gerakan semakin hari kian lemah. Karena bukannya bersatu melainkan mengibarkan bendera perang antar organisasi. Mulai saling intrik, bahkan saling membuat aturan-aturan yang memanaskan suasana antar organisasi. Sebenarnya aku juga heran kenapa bisa terjadi seperti ini. Jika boleh berspekulasi, kemungkinan adalah saling curi kader antar organisasi, juga ada senior mereka yang mengajarkan ataupun memberi dogma terhadap kader lain. Bahwa organisasi lain adalah organisasi yang hanya memikirkan politik kekuasaan (ini cuman spekulasi bos, jangan langsung nge-gas santeee). Hal-hal ini adalah yang terkadang sedikit banyak membuat orang-orang merasa kecewa terhadap gerakan dan organisasi, sehingga memilih banyak hengkang dan menjadi individu yang bebas merdeka dan tidak terikat organisasi apapun. Lalu kemudian kembali menjalani kehidupan yang membiarkan ketertindasaan tetap ada namun tidak ingin melakukan apapun dengan dalih ‘semua sudah takdir Tuhan, kita tidak perlu ikut campur atas ketertindasaan yang ada’ atau dalih :semua sudah keputusan pemerintah, ikuti saja jangan dilawan mungkin tujuan mereka baik’.

Seharusnya tidak perlu mempermasalahkan bentuk dan cara perlawanan yang berbeda atau sampai membuat intrik sesama organisasi, yang mana Ini membuat masalah dan juga tekanan baru terhadap kader-kader yang ada diberbagai organisasi. Bukan tidak mungkin malah menyebabkan di antara kader organisasi satu dengan lainnya akan timbul permusuhan (mungkin sampai baku hantam asik kali ya). Ya Tuhan ini anak seneng amat dah ada perpecahan dan sampai baku hantam. Eitss lanjut… baiknya semua organisasi kembali bersatu. Hentikan intrik dan masalah yang sengaja ditimbulkan agar terjadi perpecahan, karena untuk menghentikan ketertindasaan dan merenggut keadilan yang sejati adalah dengan cara bersatu, bukan membuat gesekan-gesekan baru antar organisasi.

Sebenarnya menjadi mahasiswa yang sering disebut aktivis oleh kawan-kawan sekalian bukanlah orang yang tidak memiliki masalah pribadi seperti kelihatannya. Ternyata dan ternyata mereka memiliki permasalahan lumayan pelik. Alangkah sia-sia emosi juga pikiran mereka yang terbuang akibat masalah-masalah yang seharusnya tidak perlu diributkan. Karena seharusnya mereka bisa menjadi satu dan menumbuhkan benih-benih cinta dan perdamaian. Yah begitulah kenyataannya kawan-kawanku, tidak semua mahasiswa yang disebut aktivis tidak memiliki masalah dengan organisasinya dan organisasi lain atau  memilih hengkang menjadi individual bebas .

 Dan untuk kawan-kawan yang akan menyambut gelar baru sebagai mahasiswa/mahasiswi, aku berdoa semoga kalian bisa menghentikan perpecahan yang ada. Semoga kalian bisa melangkah mewujudkan cita-cita yang diharapkan, juga dijauhkan dari kating-kating yang suka memberi dogma perpecahan. Juga kating-kating yang hanya mendatangkan pelecehan terhadap kalian.                                                         


Yogyakarta 28 september 2020