Topik ini begitu sederhana untuk dipahami dan di mengerti, secara harfiah makna kata-kata dalam tulisan ini adalah sesuatu yang universal yang sebagian orang juga menyebutnya sebagai *fonem*, tetapi tidaklah persis sama, sebab kata dengan kata-kata memiliki kandungan yang berbeda serta makna yang berbeda pula. Kata, bisa saja ditemukan dalam ruang kehidupan manusia sebagai sarana berkomunikasi sehari-hari, bahasa dan langgam seperti apa itu juga sudah bagian dari “dialek” atau irama bahasa yang bersifat inferiorotas dan sedikit monoton.

Akan berbeda dengan “kata-kata”, secara gramatikal dimengerti bunyi kata yang berulang tetapi pengulangan bukanlah penegasan akan sesuatu obyek tertentu. Tetapi makna kata-kata haruslah dipahami sebagai suatu hubungan dialektis antara kata yang diucapkan dengan obyek yang disentuh. Kata-kata oleh sebagian orang bukan hanya sebatas alat berinteraksi namun kata-kata sedikit lebih liar, licin dan tajam. Yah, liar karena kata-kata seringkali mengandung tafsiran (hermeneutika), perspektif serta makna yang berbeda. Licin haruslah dipahamkan bahwa tidak sedikit orang atau penguasa tergelincir jatuh karena kata-kata. Isabell Peron, pernah berucap bahwa kata-kata yang tertulis adalah senjata ampuh bagi kezaliman.

Nah, kata-kata diera transformasi informasi yang begitu cepat, nyaris “melumpuhkan nalar kebudayaan”, betapa hal ini menjadi kerisauan sebab kata-kata tak lagi menjadi “lisan suci” bagi pengucapnya. Kata yang melukai dihampir sudut lorong kehidupan manusia. Sang anak berkata tidak elok kepada orangtuanya, pergaulan anak-anak terjerumus dalam “penjara kata-kata”, sehingga nyaris ucapannya bertabrakan dengan kearifan budaya. Pemimpin yang pongah cendrung sombong karena kata-kata ke-Aku-an, meniadakan rasa hormat. Para penentangnya pun berkata-kata penuh kemarahan dan kebencian. Mungkin ada benar menurut Nietzsche, bahwa semua itu adalah awal dari sejarah tragedi, yang bisa saja merebak menjadi amuk pergumulan dan pemberontakan akibat kata-kata yang sinisme.

Namun yang menariknya adalah ketika “Jan Vansina” yang lahir di kota Antwerpen Belgia 14 september 1929. yang merilis satu studi Etnografi dan sejarawan, dengan karyanya “Tradisi Lisan Sebagsi Sejarah”. Ia menyebutnya bahwa tradisi lisan itu adalah pencerminan masyarakatnya, yang tak sekedar instrumen berucap atau berkomunikasi. Dari sinilah kata-kata dipahamkan sebagai produk sosial. Olehnya itu, sebagai produk sosial maka kata-kata harus terus dirawat bersinergi dengan kebudayaan yang menyertainya. Bukankah kedua hal itu juga adalah sejarah tak terpisah dari yang disebut literasi?, dari sini pulalah kebudayaan, seni, musik, filsafat, diterima dan dikenal sebagai bahagian yang tak putus dari sejarah kemanusiaan.

Maka dari itu, sejarah tentang kata-kata adalah juga sejarah panjang dari kehidupan manusia. Memelihara kata-kata yang bijak sama halnya merawat kebudayaan. Bahkan sejarah pergerakan dan perjuangan selalu dibangun dari kata-kata sebagai sumber pengetahuan (Deposit knowledge). Para penggugah dunia pun mendapat aplouse karena kata-kata yang mengguncangkan dunia. Pidato para sang orator di mimbar maupun dijalanan adalah bukti bahwa kata-kata telah berhasil memproduksi wacana. Lisan sebagai alur munculnya diskursus adalah bisa dibilang sebagai pemicu dari kata-kata. Jhon F. Kennedy, Ernesto, Franklin D Roosevelt, Soekarno adalah sebagian kecil dari orator dunia yang mampu menggetarkan dunia—sebab kata-kata adalah perlawanan.

Bahkan 1800 tahun yang silam tradisi lisan dengan kata-kata sebagai sumber pengetahuan telah menjadi ajaran universal dari ummat manusia, sebagaimana tradisi lisan antara malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad SAW, dan begitu pula nabi-nabi sebelumnya dalam menerima pewahyuan dari Tuhan. Tradisi lisan “pewahyuan” adalah manifestasi dari firman dan sabda yang tertuang dalam kitab dan hadist-hadist. Perawi merawatnya dalam mushab dan buku-buku tafisr yang tertulis. Peran tradisi lisan ini begitu kuat sebagai medium dakwah—bagi perkembangan sejarah dan ritual keagamaan.

Karenanya, tradisi lisan dengan kata-kata sebagai *deposit knowledge* tak pernah mati sebab kata-kata adalah senyawa dari risalah kenabian, risalah kebudayaan, risalah filsafat, yang dari semua itu akan melahirkan kebajikan dan kebijaksanaan bagi kehidupan manusia terhadap lingkungannya. Bunyi adalah letupan yang belum tentu berbentuk kata-kata, nyanyian adalah kata-kata yang terangkai dalam bentuk syair yang dapat ditangkap maknanya tergantung sipenulisnya dan penghayatan penyanyinya. Kekuatan makna dari satu “gugusan syair” bukan indah dalam tulisannya, tetapi makna terdalam hanya mampu kita tangkap dari pesan yang disampaikannya.

Contoh, lagu tak memiliki makna kalau hanya kita membacanya sebagai teks—tetapi lagu akan memiliki kandungan mendalam bila pendengar menikmatinya. Sebab, pendengar adalah obyek vital yang memiliki potensi untuk menilai lagu itu indah atau tidaknya. Sekalipun syair lagunya adalah selipan emosional dari sang penulisnya dan penjiwaan pelantunnya. Pertanyaannya adalah kenapa ada lagu yang kadang menitikkan air mata, terutama pendengarnya?, sebab fungsi pendengaran adalah menginjeksi pikiran—lalu turun ke jiwa/hati. Dari persentuhan pikiran dan jiwa melahirkan perasaan—perasaan yang bisa sedih (mungkin). Kenapa demikian?, sebab pendengar menjejaki dirinya bahwa syair itu “aku banget”, artinya syair lagu itu seakan menterjemahkan kehidupannya dimasa lalu.

Dan tentu sangat jauh berbeda dengan dengan pembacaan “puisi”. Sebab puisi adalah gerakan emosional dari seseorang dengan keadaan yang ada. Puisi adalah kata-kata perlawanan (Albert Camus), dalam puisi lahir kritik sosial—memberontak adalah jalan sunyi bagi puisi dalam menemukan esensinya sebagai sebuah sejarah sastra dan sejarah kemanusiaan. Taufiq Ismail, WS. Rendra—adalah suara kritis yang lahir dimimbar puisi. Puisi adalah—kata-kata yang berbisah. Kadang pendengarnya merasa terganggu dengan isi puisi, dan kadang pula pembacanya—membaca dengan semangat yang berapi-api sebagai simbol pemberontakan. Syair pun kadang tak berarti, bila tak dibacakan dengan penuh semangat.

Karena itu, puisi, prosa, dan langgam apapun namanya—menjadi sesuatu yang tak berarti bila tidak dipenuhi dengan kata-kata. Bagaimana seseorang itu menjadi baik karena kata-katanya, seseorang yang kuat tiba-tiba tergelincir jatuh karena kata-kata. Dalam Islam dikenal kalimat “bilhikmah wal mauizatil khasanah”, menyampaikan dengan penuh hikmah dan bijaksana. Kata-kata bijak bisa seperti ini, “kamu tidak salah”—tetapi kamu hanya sedikit melakukan kekeliruan. Sekalipun kata kekeliruan itu identik dengan kesalahan yang dia lakukan. Itulah ”bilhikmah”.

Sehingga kata-kata adalah sumber kebijaksanaan—sumber pengetahuan—sumber tradisi lisan—sumber sejarah kemanusiaan—dan sumber pewahyuan dari Tuhan kepada manusia. Tanpa tradisi itu, maka manusia tak akan mengenal dunia bahkan dapat membaca peradaban dunia ini.

Medsos (interaksi dunia maya) adalah ruang berkelananya kata-kata. Dunia transformasi-komunikasi telah membawa manusia pada ruang diskursus yang lebih luas, interaksi terjadi tanpa harus mengenal satu sama lain. Saling menyapa walau tak mengenal satu sama lain. Kita bisa menemukan percakapan-percakapan verbal maupun non verbal, yang bisa berisi inspiratif, kritik, cemoohan, hinaan, membully dengan kata-kata yang sinis padahal (mungkin saja) sipenulis dimedsos (Facebook, Twitter, Instagram) menuliskannya dengan konteks tertentu, tetapi pembaca menafsirkan lain—tetapi itu hak para pembaca untuk menafsirkan konten tulisan sipenulisnya.

Tetapi yang kadang kita temukan medsos justru disalahpahami dengan berbagai konten yang ada. Dunia medsos dunia yang tak berbatas—tanpa sekat dan demarkasi antara satu wilayah, termasuk manusianya. Sehingga dunia tak berbatas ini (paling tidak) mampu mempenetrasi—lalu lintas pikiran yang berseleweran dengan kata-kata. Intinya adalah kata-kata menjadi sesuatu yang amat penting bagi subyek (penulis)—dan obyek (pembaca) dalam konteks tertentu. Kata-kata adalah—filter dari kalimat, sebab peradaban hanya mampu tegak bila kata-kata menjadi penyanggahnya.

Tinggikan martabat pengucapan atas kata-kata yang bijak, agar kata-kata tak jatuh dan melukai. Sebab kata-kata adalah “buku tanpa huruf”.