Dunia selama ini seakan digenggam oleh tangan-tangan kapitalisme itu kata Francis Fukuyama dalam tesisnya “The end of history“. Hegemoni kapitalisme seakan menjadi ideologi yang harus diamini oleh seluruh dunia sebagai jalan kegagalan dari ideologi-ideologi lainnya. Harold Laswell seorang professor sains politik menyatakan bahwa tradisi dunia pernah mewariskan 178 ideologi—tetapi berevolusi tanpa pengikut dan hilang dari panggung sejarah.

Sehingga pada fase perkembangan industrialisasi pasca revolusi sosial dan revolusi industri di beberapa negara–mendorong negara-negara besar untuk menegasikan pilihan alternatif ideologi yakni kapitalisme. Dalam beberapa dekade perkembangan demokrasi modern dunia terbelah menjadi dua kutub, yakni kutub kapitalisme di barat yang disponsori Amerika Serikat dan sosialisme di Uni Soviet (sekarang Rusia).

Kapitalisme sebagai ideologi—terus melakukan kampanye diseluruh dunia, perang dua kutub ini tak lebih sebagai perang gengsi untuk merebut supremasi sebagai negara super power. Pertentangan klasik dari dua persinggungan ideologi kapitalisme versus sosialis membawa pada satu pilihan apakah sebuah negara harus berkiblat kepada kapitalisme atau sosialis.

Kapitalisme—menghadirkan sikap individualistik dan monopolistik. Ideologi secara praksis hanya dimiliki oleh kaum borjuasi—pemilik modal dengan menguasai aset-aset yang bersifat vital—dan mungkin juga negara menjadi kendali penguasaannya. Kapitalisme berhasil merobohkan sikap gotong-royong, tepo-seliro—disparitas sosial atau kesenjangan berusaha untuk dihadirkan ditengah kehidupan.

Jaques Attali yang menyadur pikiran Alfin Toffler (futurolog), menyebutkan bahwa kapitalisme dalam setiap momen selalu menghadiahi para pemenang. Dalam konteks politik, mungkin biaya demokrasi yang menggila, mahar politik, money politics—dan pemimpin yang miliki elektoral tinggi akan disokong dengan kapital yang besar pula. Situasi ini tentu akan berefek pada “politik bayar bunga”, —sehingga pengelolaan pemerintahan akan dikendalikan dari luar pemerintahan atau diluar istana.

Nah, yang menjadi problem krusial saat ini adalah terjadinya guncangan dunia, resesi ekonomi diambang mata, depresi sosial—frustasi sosial yang tidak menutup kemungkinan akan melahirkan letupan emosi sosial. Dalam teori sosial—bahwa menjadi absurd membangun demokrasi ditengan kelaparan.

Penganut kapitalisme dalam situasi seperti ini seakan berteriak minta tolong kepada “Tuhan” agar negara memperdulikannya, kenapa? sebab para kapitalis mulai rontok—karena jumlah PHK, mesin-mesin produksi seketika terhenti, daya beli masyarakat turun drastis, sirkulasi ekonomi kian melambat. Fenomena kecil dari kapitalis yang bermain ditengah wabah ini—dengan penimbun masker akhirnya rugi milyaran rupiah.

Sikap individualis, egosentris dari produksi kapitalisme—seakan menemui ajalnya. Kenapa? Era pandemi adalah era gerakan kebersamaan, gerakan nurani, gerakan menengok tetangga, gerakan empati dan simpatik—gerakan menyambungkan rahim atau kasih sayang kepada sesama.

Gerakan kebersamaan bukanlah diukur karena ia berlebih dari orang lain—tetapi gerakan kebersamaan adalah bersama bangkit dan bersama berjuang melawan pandemi ini—status sosial yang dilahirkan oleh kapitalisme saatnya harus “istirahat” bahwa mungkin (kapitalisme) harus berakhir sebagai bentuk melanjutkan ucapan Francis Fukuyama, tentang matinya sejarah (The end of history).