Tidak boleh ada perang dimana raja makan sekenyang-kenyangnya, tetapi prajurit disuruh mengangkat senjata sementara mereka kelaparan—itu absurd.



DALAM beberapa bulan terakhir ini dunia dikejutkan dengan adanya wabah virus corona yang dimulai dari Wuhan-China, hingga beberapa saat kemudian menyebar dihampir 189 negara didunia. Asia nyaris tak luput dari serangan wabah tersebut, hingga merangsek memasuki kawasan dunia lain seperti Eropa— Italia yang dilansir pertanggal 28 maret 2020 kematian perhari dikisaran 800 orang, padahal Italia adalah salah satu negara tingkat pengamanan kebersihan terbaik didunia, akhirnya keropos juga ditengah serangan covid-19 ini. Italia menyuguhkan fenomena yang mengerikan, mobil militer dikerahkan untuk mengangkut jenazah ke area pemakaman missal. Dicatat, bahwa
rata-rata yang meninggal di Italia adalah usia 65-70 tahun keatas, yang menurut catatan WHO dan dinas kesehatan melansir bahwa usia ini memiliki imunitas yang rendah dan resisten dengan penyakit. Perancis, Jerman, bahkan Amerika Serikat pun tak luput dari serangan wabah yang mematikan tersebut. Indonesia juga tak luput dari serangan wabah corona, hingga saat ini kematian sudah berjumlah sekitar kurang lebih 200 orang, dengan ribuan yang terinveksi dan dalam perawatan medis.

Di beberapa negara telah menutup akses keluar masuk warga negaranya, termasuk Arab Saudi yang lockdown yang berakibat tanah suci Mekkah sepi, Kabbah pun seakan berdiri tunggal tanpa jamaah yang tawaf mengelilinginya. Dalam sejarah fatul makkah, bahwa tawaf di mengelilingi Kabbah adalah bentuk gerakan transendensi alam semesta, perputaran bumi dan tata surya. Situasi ini tentu sangat menyedihkan bagi ummat muslim dan ummat manusia seluruhnya. Seakan “Tuhan istirahat” tentang urusan manusia. Subhanallah. Apa mungkin setiap musibah terjadi secara alamiah, tanpa hukum sebab akibat (causalitas)?, apa mungkin setiap kejadian terjadi secara spekulasi, dari oleh pikir manusia?, apa mungkin setiap kejadian adalah “kutukan, cobaan, ujian” dari Tuhan?, seakan kita termangu tanpa jawaban, berpasrah, stay at home, bekerja dari rumah dan lain sebagainya.

Mahatma Gandhi dalam buku yang berjudul “A Guide To Health” pada umunya orang dianggap sehat apabila seseorang itu memiliki cukup makan, dan rajin bergerak, serta tidak pergi ke dokter, dan sedikit berfikir akan meyakinkan kita bahwa pemahaman ini keliru. Banyak kasus dimana orang menderita karena penyakit, walaupun mereka cukup mengkonsumsi makanan, dan bebas bergerak. Mereka berada dalam delusi bahwa mereka sehat, hanya karena mereka tidak mau ambil pusing terhadap suatu masalah tertentu.

Sesungguhnya orang sehat hampir tidak ada dimana-mana diseluruh penjuru dunia ini, seperti benar yang diungkapkan, sebab asumsi filosofisnya bahwa hanya yang benarbenar sehatlah yang memiliki pikiran yang sehat dan tubuh yang sehat. Relasi antara tubuh dengan pikiran sedemikian dekatnya, ehingga bila salah satu dari mereka yang
sakit, maka seluruh sistem akan menanggung dampaknya. Mari kita mengambil analogi bunga mawar. Warnanya mendukung wewangian bunga itulah yang disebut dengan content dan konsistensi—dalam filsafat dikenal dengan istilah “eksistensialisme”. Maka demikian pula dengan tubuh manusia terhadap pikiran dan jiwanya.

Sehinngga tidak ada yang menganggap bunga kertas buatan manusia sebagai sesuatu yang indah yang layak mengalahkan alami bunga mawar itu, atas alasan jelas bahwa aromanya membentuk esensi bunga tersebut. Itu fakta, bukan mitos. Demikian halnya, kita secara naluriah lebih menghormati orang-orang dengan pikiran yang suci dan berfikir positif disbanding mereka yang sekadar kuat secara fisik. Tentu saja, tubuh dan jiwa sama-sama penting, tetapi pikiran jauh lebih penting, sebab dari pikiran stimulus itu ada, dari pikiran itu wacan itu diproduksi, dan dari pikiran semua hal dapat diproteksi termasuk penyakit—dan wabah. Sebab tubuh yang berisi pikiran yang sakit
tidak pernah bisa menjadi apapun—selain sakit.

Mencapai kualitas sehat tentu tidaklah mudah, ada pameo orangtua dulu—bila seorang anak dalam keadaan sakit, maka sesungguhnya ia berada dalam lingkungan yang tidak sehat. Bagi setiap orang, yang telah memperoleh derajat kesehatan tentu tidak pernah takut dengan kematian, sebab ia dari awal memperjuangkannya, maka sebaliknya,
orang sakit selalu berada dalam suasana takut akan kematian, sebab ia selalu memeprjuangkan kondisi tubuhnya untuk tetap sehat. Karena itu, kesehatan begitu penting, sehingga pikiran yang positif terhadap suatu keadaan bukan keniscayaan—tetapi mesti harus dihadapi.

Saat ini, tentu fenomena ketakutan masyarakat di seluruh dunia akan wabah virus corona. Teori-teori spekulatif kian muncul, dengan berandai-andai, kalau asumsi kebersihan menjadi sebab utama corona tidak menyebar, maka negara Italia tidak akan colaps, karena negara tersebut dikenal sebagai negera terbersih di dunia. Kalau memang suhu panas bisa membunuh virus corona, maka tidak akan mungkin negara
Iran akan panic, padahal Iran adalah negara gurun yang panas. Dan kalau karena asumsi kehati-hatian menjadi hal utama seseorang tidak terinveksi corona, maka Sang Pangeran Charles tidak akan mungkin tersungkur karena corona, padahal pangeran Charles hidupnya sangat hati-hati dengan berbagai fasilitas yang dimilikinya. Lalu, apakah gelandangan, kuli panggul, pengamen, anak jalanan, pedagang kaki lima, tidak kena corona?, jawabannya tidak juga, semua tersungkur dengan wabah ini.

Terus pertanyaannya adalah, ada rahasia apa dibalik tragedy kemanusiaan ini dengan wabah corona?, kehidupan kapitalistik yang selama ini mengendalikan jantung peradaban—dan ekonomi dunia juga pada akhirnya tersungkur sebab kebijakan negara yang melakukan lockdown, social distancing, physical distancing, adalah bentuk memutus mata rantai penyebaran virus covid 19 ini sebagai bentuk penyelamatan
warga negara. Pada akhirnya ekonomi jatuh seketika. Dalam teori konspirasi global, bahwa perang selalu menciptakan “keberangusan ekonomi”, tapi corona bisa dibilang adalah perang tanpa persenjataan—yang tak mengenal blok barat dengan timur. Kotakota menjadi sepi dan sirkulasi menausia pun semakin mengecil sebab mereka memilih diam dirumah.

Bagaimana psikologi manusia?
Manusia secara kodrati memiliki insting tentang ketakutan, keberanian. Ketakutan dan keberanian karena siifat azali manusia,—ketakutan kadang muncul dan dipengaruhi dari luar maupun dari dalam seseorang. Ibnu Sina—seorang filsuf dan ilmuwan, pernah bilang bahwa
ketakutan itu adalah separoh dari penyakit itu, dan sabar adalah sebagian obat dari penyakit itu. Ketakutan manusia karena daya saring pikiran terhadap informasi mengalahkan rasionalitas,—-pikiran kalah dengan emosional. Pikiran yang takut tentu akan mengganggu secara psikologi manusia—Sigmund Freud menyebutnya sebagai “kecemasan neurotic” artinya ketakutan akan kesehatan fisik dan jiwa. Fenomena ini muncul ditengah wabah corona, bahkan bukan hanya ketakutan pada penyakit, justru adalah ketakutan pada kelaparan, sebab semua
sector formal seperti pasar, kedai, warung, took dan pusat-pusat perbelanjaan ditutup karena corona. Situasii ini akan memicu pada—jatuhnya human psychology, artinya manusia akan jatuh pada titik “Ketaksadaran”.

Nah, kalau “titik ketaksadaran” ini menjadi fenomena kemudian, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah?, tentu langkah strategisnya mengambil peran untuk menghidupi masyarakatnya dengan bantuan bahan pokok—-dan inilah fungsi negara. Tidak boleh ada perang dimana raja makan sekenyang-kenyangnya, tetapi prajurit disuruh mengangkat senjata sementara mereka kelaparan—itu absurd.

Suatu kisah akan menutup tulisan ini, suatu ketika ada seorang Waliullah yang memiliki ilmu yang mpu berdialog dengan sesuatu yang tak terlihat dengan mata, dan tak dapat berdialog dengan lisan. Suatu ketika Waliullah ini, bertanya pada segerombolan wabah. Kata Waliullah, wahai siapa gerangan engkau datang dalam keadaan bergerombol seperti ini. Wabah itu menjawab, aku adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk datang ke kota Damaskus. Untuk apa, kata Waliullah. Aku diutus Allah untuk member penyakit kepada penduduk Damaskus. Siapa korbannya, kata Waliullah. Manusia (jawab wabah). Berapa banyak (Kata Waliullah). 1000 orang (jawab Wabah). Berapa lama (kata Waliullah). Dua tahun (jawab wabah).

Lalu dua tahun kemudian, Waliullah itu kembali bertemu dengan wabah tersebut, lalu sang Waliullah berkata, wahai engkau wabah, kenapa penduduk Damaskus meninggal 5000 orang? Bukankah janjimu tempo hari hanya 1000. Ya janjiku memang 1000 dan itu aku buktikan,
adapun yang meninggal lebih dari 1000 itu bukan kesalahanku, tetapi karena kesalahan mereka sendiri—yang penuh kepanikan, ketakutan tanpa diiringi dengan kesabaran.

Karena itu, imunitas perlu dibekali dengan asupan makanan yang sehat, dengan berolah raga yang teratur dan pikiran yang positif. Sementara imanitas harus mampu dibangun dengan kekuatan mendekatkan diri pada Allah sang pemilik kehidupan. Bukankah Allah telah berfirman
dalam kitabNya “Waiza marudtu fahuwa yasyfiin”, Allah yang mendatangkan penyakit, dan Allah pula yang menyebuhkannya. Tentu dengan keyakinan yang kuat, dan kesabaran yang prima atas segala peristiwa yang ada.

Semoga Allah segera memulihkan kehidupan ini dengan cara mengangkat wabah virus corona ini dari muka bumi ini. Aamiin.