Oleh : Pradhabasu


Lagi-lagi, fenomena kekerasan yang dibalut dengan jubah agama kembali muncul ke permukaan. Bentrokan yang terjadi antara organisasi sayap kanan Hindu dengan kelompok Muslim di New Delhi, India, bermula dari aksi protes kelompok Muslim terhadap Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan India yang dinilai diskriminatif. Selain menjadikan rumah peribadatan sebagai sasaran amuk massa, lebih dari itu, bentrokan telah memakan puluhan korban nyawa dan ratusan korban luka. Terbaru, bentrokan berujung anarkisme, di mana umat Muslim menjadi korban.

Miris memang, di tengah semangat merajut koeksistensi antarumat beragama, masih saja ada tindakan yang menyulut api perpecahan. Tidak heran jika kemudian suara kecaman atas kekerasan dan empati kepada korban terdengar lantang dari berbagai belahan dunia. Sebab bagaimanapun, dengan akses informasi yang serba cepat dan melampaui batas geografis, apa yang terjadi di India tidak bisa dikatakan sebagai semata persoalan internal. Apalagi membawa nama agama yang merupakan hajat orang banyak.

Di Indonesia, sampai batas tertentu, kecaman atas apa yang terjadi di India berujung pada sikap penghinaan terhadap ajaran agama pihak yang dinilai bertanggungjawab atas peristiwa kerusuhan. Sikap ini setidaknya muncul karena dua sebab. Pertama, apa yang terjadi seolah merupakan buah dari ajaran agama, dan bukan berangkat dari kekeliruan paham keagamaan yang mewujud dalam ekstrimisme.

Hal ini menunjukan bahwa sebagian di antara kita belum mampu membedakan antara ajaran agama dan pemahaman keagamaan. Padahal keduanya jelas berbeda. Adalah benar bahwa ajaran agama mengandung dimensi sakral, akan tetapi, ia akan luntur seiring dengan keterlibatan manusia dalam memahami ajaran tersebut. 

Munculnya sikap radikalisme –yang seringkali menjurus pada ekstrimisme– di kutub sebelah kanan dan liberalisme di kutub sebelah kiri adalah di antara perwujudan dari proses memahami ajaran agama yang berlebihan. Dalam konteks ini, selain disebabkan adanya keterlibatan faktor-faktor seperti psikologis dan sosiologis, ekstrimisme yang bersembunyi di balik jubah agama muncul karena menganggap dirinya punya lisensi dari Tuhan, sehingga ia merasa punya hak untuk melakukan kerusakan.

Akan tetapi, bagaimana mungkin Tuhan memberi mandat kepada hamba-Nya untuk melakukan kerusakan, sementara Dia mempunyai sifat Maha Pengasih?

Kedua, sikap tersebut merupakan kalkulasi emosi oleh beberapa di antara umat Muslim di Indonesia yang selama ini merasa telah disudutkan. Meski dalam kuantitas Muslim adalah mayoritas, tidak jarang ada perasaan terdzolimi, terutama ketika menyangkut isu-isu toleransi, radikalisme, dan terorisme/ekstrimisme. Sehingga ketika muncul kekerasan yang dibungkus sentimen keagamaan, di mana korban mayoritasnya adalah Muslim, segala bentuk kecaman segera terlontar, bahkan jika itu melampaui batas.

Apa yang terjadi pada kelompok Muslim India dinilai telah menambah deretan panjang perlakuan buruk terhadap komunitas Muslim, setelah sebelumnya Rohingya, Uighur, dan terutama Palestina. Sayangnya, respon yang diberikan tak ubahnya berangkat dari keterjebakan pada lingkaran setan kebencian; membela korban dengan cara balik mengutuk bahkan menghina ajaran agama.

Yang patut dipertanyakan, benarkah Tuhan mengizinkan hamba-Nya saling mengutuk dan menghina ajaran agama pihak lain?

Menuju Kesadaran Kemanusiaan

Isu agama memang selalu menarik dan ramai diperbincangkan. Tak heran jika kekerasan yang dibumbui dengan sentimen keagamaan akan memantik respon banyak pihak. Tidak terkecuali apa yang terjadi di India pada beberapa waktu ini.

Namun begitu, selain melahirkan respon yang ‘melampaui batas’ seperti yang disebut di muka, kejadian di India sedikit-banyak telah memunculkan kesadaran akan nikmat hidup dan tinggal di Indonesia. Kesadaran ini tumbuh seiring dengan minimnya konflik dengan jubah agama. Meskipun tidak dapat dimungkiri masih ada, akan tetapi, sejauh ini jarang yang berujung pada anarkisme.

Bagi mereka yang memahami bedanya ajaran agama dan pemahaman keagamaan, serta terlepas dari lingkaran setan kebencian tentu sadar bahwa apa yang terjadi di India bukan semata persoalan agama, melainkan lebih dari itu, yakni menyangkut persoalan kemanusiaan. Menggunakan jubah apapun, ekstrimisme adalah perbuatan keji yang mendestruksi nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan, sehingga harus dimusnahkan. Jika dibiarkan, akan semakin banyak korban berjatuhan. Ekstrimisme adalah musuh agama dan kemanusiaan.