Dalam lirik lagu Sule Sutisna yang berjudul Bola Salju berbunyi “cintaku kepadamu bagaikan bola salju, bergulir-gulir semakin besar”.


Oleh : Muhammad Ihksan


Musim salju bagi penduduk negara-negara subtropis menjadi salah satu moment yang di tunggu-tunggu. Banyak hal positif dan menghibur yang bisa mereka lakukan pada musim tersebut. Bilang saja, dari segi ekonomi, negara-negara yang memiliki wahana permainan salju bisa meraup pemasukan besar karena tingginya kunjungan wisatawan. Para wisatawan ini akan menikmati ragam wisata-wisata ala musim salju seperti bermain snow ski. Wisawatawan juga bisa bermain bola saju yang dibentuk menjadi orang-orangan, hingga mengambil foto yang instagramable dan disebar melalui media sosial untuk menunjukkan eksistensinya.

Bicara soal musim dan implikasi sosial ekonominya, saat ini baik negara-negara tropis maupun subtropics sedang mengalami musim yang sama, yaitu musim virus. Pandemi Coronavirus Disease 19 atau COVID-19 menjadikan setiap musim di negara belahan dunia manapun mencegah kita untuk menikmatinya. Serangan COVID-19 yang masih menjadi kontroversi asal muasalnya ini mencegah kita untuk beraktifitas seperti biasanya. Hingga hari ini, kita belum mampu menang melawan makhluk ciptaan Sang Maha Kuasa yang berukuran nano meter ini. Banyak spekulasi-spekuliasi dari berbagai ahli bermunculan terkait asal muasal mahkluk yang tidak bisa di lihat dengan mata telanjang ini.

Disini penulis ingin mengajak pembaca untuk mengaktifkan imanjinasi bahwa apabila wabah yang terjadi sekarang ini tidak segera kita lawan dengan efektif, maka wabah ini akan menyebabkan lebih banyak korban jiwa yang berjatuhan. Bukan hanya itu, kriminalitas maupun angka ekonomi setiap negara akan mengalami penurunan.

Kembali pada judul yang penulis buat, Dalam lirik lagu Sule Sutisna yang berjudul Bola Salju berbunyi “cintaku kepadamu bagaikan bola salju, bergulir-gulir semakin besar”.  Artinya jika pemerintah selaku pemegang kebijakan tertinggi saat ini tidak segera melakukan upaya kongrit dan efektif sebagai bentuk pencegahan penyeberan virus ini, wabah corona ini akan sama seperti layaknya bola salju, bergulir-gulir semakin besar. Menurut penulis, beban untuk mencegah penyebaran COVID-19 tidaklah hanya menjadi beban pemerintah. Kita, seluruh manusia di bumi ini harus bekerjasama untuk membasmi makhluk ciptaan Tuhan yang berukuran nano meter tersebut supaya tidak lagi menyebabkan berjatuhannya korban jiwa. Contoh hal kecil yang bisa kita lakukan adalah menjalankan anjuran WHO seperti menggunakan masker, physical distancing, tidak bepergian keluar rumah, melakukan pola hidup sehat, serta senantiasa menjaga kebersihan dengan mencuci tangan sebelum atau setelah melakukan aktivitas apapun.

Virus ini muncul pertama kali di Negara China dan negara tersebut segara melakukan lockdown. Alhasil, dalam 2 bulan negara mereka sudah berhasil menurunkan angka penyebaran virus ini. Sedangkan di Korea Selatan, mereka menggunakan teknik baru yaitu mengadakan klinik berjalan sehingga pasien yang memiliki gejala terkena virus corona tidak perlu datang ke rumah sakit.

Lantas, bagaimana dengan himbauan dari Pemerintah Indonesia yang menganjurkan kita untuk berada di rumah  dan tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak terlalu penting? Upaya tersebut perlu kita sambut baik dengan rasa optimisme bahwa anjuran pemerintah saat ini semata-mata untuk mencegah rantai penyebaran virus corona. Namun di sisi lain penulis melihat hal lain yang ditimbulkan dari himbauan tersebut.

Ketika kita merujuk pada anjuran pemerintah dengan beberapa poin di dalamnya, penulis memiliki kekhawatiran bahwasannya ada hal yang lebih berbahaya dari serangan virus Corona ini jika tidak segera diatasi, yaitu kebutuhan masyarakat terhadap Korona (Kopi, rokok, Nasi) menjadi kebutuhan wajib bagi banyak masyarakat. Larangan beraktivitas ke luar rumah menyebabkan banyak pedagang warung kopi yang terpaksa menutup warungnya karena mengikuti anjuran pemerintah. Padahal, di sisi lain ngopi saat ini sedang menjadi trend di banyak kalangan masyarakat. Mereka kebingungan karena pemasukan yang didapat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari seperti membeli beras untuk dimasak menjadi nasi dan di nikmati bersama keluarga. Kebutuhan-kebutuhan kecil lainnya seperti rokok, gula, sembako, pulsa listrik, maupun kuota internet juga tidak bisa dihindari. Bukan hanya bagi pedagang warung kopi saja, pedagang kaki lima dan pedagang-pedagang kecil lainnya juga turun merasakan dampaknya. 

Oleh karena itu, jika tidak ada upaya yang efektif yang kita lakukan, corona ini akan sama saja seperti bola salju yang semakin bergulir semakin besar. Salah satu implikasi sosial, kegagalan menangani kecukupan kebutugan ekonomi masyarakat bisa menyebabkan munculnya tindakan-tindakan anarkis dan kriminal.

Untukmu makhluk yang datang tak di undang dan pulang tak di antar, segeralah musnah dari bumi kami. Karena kami tidak ingin corona dan kebutuhan masyarakat akan korona (kopi, rokok, nasi) seperti menjadi rantai rantai kehancuran populasi manusia di bumi.   Lantas jika merujuk pada mekanisme-mekanisme yang telah dilakukan negara-negara yang sudah berhasil mencegah angka penyebaran virus corona, apakah upaya tersebut perlu kita coba? Atau wajib kita lakukan? Biarlah itu menjadi otoritas pemerintah untuk mengambil kebijakan tersebut. Hal kecil yang bisa kita lakukan adalah dengan tinggal dirumah. Selamatkan bumi ini dengan dirumah saja sudah menjadikan diri kalian layaknya Pahlawan. Tidak melakukan aktivitas di luar rumah sehingga heningnya kota, berkurangnya polusi udara, dan semakin dekatnya manusia pada Tuhan adalah “jalan takdir” di mana manusia perlu merenung atas bencana ini. Sehingga bumi sedang berejuvenasi (peremajaan) demi penataan semesta masa depan.