Oleh: dr. Rizki Febriawan
Dokter Umum dan Pengamat Kesehatan


Terdapat kenaikan kasus konfirmasi covid-19 hingga 100% pada bulan November 2020 di pulau Belitung. Tercatat 81 kasus konfirmasi positif baru di bulan november, setelah 8 bulan sebelumnya tercatat 58 kasus konfirmasi positif (maret-oktober). Angka kematian karena covid-19 di kabupaten Belitung tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya, dengan 7 kematian Case fatality rate 4.14% (rata-rata Case fatality rate provinsi 1.38%).

Hal yang menjadi fokus adalah bagaimana perbandingan kecepatan penularan virus covid-19 dengan kecepatan penanganan covid-19. Peningkatan kasus secara pesat dan terus menurus dapat menyebabkan overkapasitas dari tempat isolasi maupun rumah sakit. Sampai di titik overkapasitas tersebut, dikhawatirkan tempat isolasi/rumah sakit tidak dapat menampung pasien lagi dan penanganan menjadi kurang optimal. Pasien covid-19 yang seharusnya dirawat di ruang isolasi/rumah sakit tidak mendapatkan tempat perawatan. Akhir-akhir ini Media nasional memberitakan rumah sakit di Jakarta, jawa tengah dan daerah lain di Indonesia hamper penuh. Hal lain yang dapat terjadi, adalah dibukanya ruang isolasi baru dari ruang non-isolasi, sehingga kapasitas ruang non-isolasi menjadi berkurang. Ruang non-isolasi ataupun ruang biasa, digunakan untuk merawat pasien non-covid seperti stroke, serangan jantung, tifoid, demam berdarah dan penyakit lainnya. Sehingga akan berdampak pada ketersediaan ruang rawat pada pasien dengan penyakit lainnya.

Masalah lain yang timbul, ada potensi terjadinya burnout syndrome dari tenaga kesehatan. Burnout syndrome merupakan suatu kumpulan gejala kehilangan energi, kelelahan, gangguan emosional/mental karena stress kronis yang terkait pekerjaan. (WHO, 2019). Hal tersebut dapat dikarenakan  mereka dihadapkan dengan jumlah pasien yang meningkat pesat, pandemic fatigue, kurang kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan, munculnya informasi hoax dan sebagainya. Dikutip dari CNN (18/11/2020), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan sekitar 85% renaga mengalami burnout syndrome karena Lelah dan tidak tahu kapan pandemic berakhir. Pembentukan sumber daya kesehatan bukanlah hal mudah, tidak instan, dibutuhkan waktu 6-7 untuk menjadi dokter, 3-4 tahun menjadi perawat dan begitupun tenaga Kesehatan lainnya. 

Jumlah kasus yang melonjak tinggi akan meningkatkan resiko terpaparnya tenaga medis terhadap virus covid-19. Sehingga, jika ada yang terkena paparan dan harus menjalani isolasi, akan berimbas terhadap layanan kesehatan. Shift jaga yang bertambah, kelelahan, hingga ditutupnya layanan kesehatan.

Peningkatan jumlah kasus yang signifikan berkaitan dengan kecepatan penularan kasus tersebut. Kita ketahui bahwa penularan terjadi karena kontak langsung dari orang terinfeksi terhadap orang lainnya. Kemampuan individual dalam menularkan covid-19, kita kenal dengan istilah reproductive number (R0). Misalkan R0 2-3, berarti 1 orang dapat membuat 2-3 orang lainnya terinfeksi. Jumlah tersebut akan meningkat pesat secara exponensial (misal satu jadi dua, dua jadi empat, dan seterusnya).  Namun, dapat muncul fenomena “superspreader” yang dapat menyebabkan sebuah cluster. Menurut suatu publikasi, Journal of Infection November 2020, superspreader adalah Individu yang mempunyai kemampuan menularkan jauh lebih banyak dari biasanya hingga menyebabkan cluster besar  (melebihi reproductive number R0). Superspreader tersebut dapat berupa orang tanpa gejala (OTG) dengan mobilitas tinggi, menularkan pada tempat publik yang ramai/berkerumun. Resiko penularanpun semakin meningkat pada tempat dengan ventilasi buruk, crowded, durasi yang lama, dan longgarnya penerapan protokol Kesehatan oleh individu didalamnya (3M: memakai masker, menjaga jarak >1m, mencuci tangan). Kita tahu bahwa 80% pasien confirm covid-19 adalah orang tanpa gejala.

Penanganan perlu dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir. Hulu merupakan upaya menekan jumlah kasus positif, berupa Tindakan promotif dan preventif. Hilir juga perlu dipersiapkan dalam mengantisipasi lonjakan kasus. Langkah-langkah tersebut hendaknya dilakukan secara cepat, tepat dan responsif. Ada beberapa saran/solusi yang dapat kita ambil untuk menghadapi pandemic ini, sebagai berikut:

  1. Meningkatkan koordinasi, kolaborasi, komunikasi dan Kerjasama antara pemerintah daerah, satgas covis-19, organisasi profesi Kesehatan (IDI, PPNI) dalam menangani covid-19.  Masalah pandemi ini merupakan masalah bersama, oleh karena itu seluruh elemen, seluruh sumber daya yang ada harus saling mendukung dan Bersatu melawan pandemi ini. Pemerintah juga harus melibatkan organisasi profesi (IDI, PPNI) dan elemen masyarakat dalam diskusi pengambilan keputusan, melakukan audiensi, bekerjasama dan berkolaborasi dalam Langkah-langkah strategis sesuai porsinya masing-masing. Turut serta semua elemen harapannya akan membuat beban menjadi lebih ringan.
  2. Edukasi Kesehatan secara masif dapat meningkatkan pemahaman masyarakat megenai covid-19, melawan informasi hoax dan melawan stigmatiasi. Edukasi merupakan pilar promotif dan preventif. Edukasi bertujuan menumbuhkan pemahaman benar mengenai covid-19, protokol Kesehatan, meningkatkan kewaspadaan namun mengurangi ketakutan serta bekal pengetahuan lainnya bagaimana masyarakat secara Bersama-sama survive pada kondisi pandemik ini. Edukasi yang berhasil diharapkan membentuk perilaku masyarakat sadar sehat. Edukasi dapat dilakukan melalui media massa, media sosial, media cetak, diskusi online dsb dilakukan secara menarik, jelas, mudah dipahami dan sesering mungkin. Pemerintah dapat melakukan Kerjasama dengan organisasi profesi dan elemen masyarakat dalam melakukan edukasi.
  3. Regulasi dan Penegakan hukum yang tegas terhadap penerapan protokol kesehatan. Regulasi penerapan protocol Kesehatan yang jelas diberbagai tempat seperti pasar, tempat ibadah, acara nikahan, kantor, sekolah, dan tempat publik lainnya perlu disosialisasi kepada masyarakat secara intens. Petugas pemerintah perlu mengawasi dan memastikan setiap tempat/aktifitas terlaksana sesuai protokol Kesehatan. Penyelenggara kegiatan sebaiknya berkoordinasi dan mendapatkan ijin dari petugas pemerintah yang berwenang. Petugas berwenang harus menindak tegas dan adil pada pelaku pelanggar protocol Kesehatan di tempat/kegiatan sesuai aturan yang berlaku.
  4. Meningkatkan kapasitas testing sesuai standard WHO. Testing, tracing, treatment (3T) merupakan kunci penting selain edukasi Kesehatan. Jumlah kapasitas testing yang direkomendasikan WHO yaitu minimal 1/1000 penduduk/minggu .Testing secara masif dan sesuai standar dapat memberikan deskripsi real beban pandemi ini seperti jumlah kasus baru, kasus aktif, dsb. Jumlah testing sedikit, jumlah kasus sedikit, tentu angka yang dihasilkan akan membuat ragu dalam menyimpulkan. Ada kemungkinan jika testing ditingkatkan secara masif, angka akan bertambah daripada sebelumnya. Rasio lacak: isolasi merupakan perbandingan antar jumlah orang yang dilacak dan diisolasi terhadap kasus konfirm positif. Jumlah rasio lacak: isolasi yang dianjurkan WHO adalah minimal 30. Semakin tinggi angka rasio lacak isolasi, semakin bagus tracing yang dilakukan. Jumlah orang yang dilacak dan isolasi untuk segera dilakukan testing untuk penemuan kasus. Gold Standard diagnostic test yang digunakan adalah swab test metode Polymerase-chain reaction (PCR). Namun sebagai alternatif, pemerintah dapat menggunakan Test Cepat Molekuler dengan sensitifitas dan spesifisitas yang serupa dengan PCR. 
  5. Memberikan informasi jelas dan lengkap terkait laporan situasi terkini wabah covid-19 di Belitung. Informasi berupa jumlah kasus aktif, total kasus, jumlah kontak erat, suspek, jumlah pasien dirawat, persentase kapasitas ruang isolasi atau Rumah sakit serta data sebaran epidemiologis berdasarkan tempat dan kluster. Informasi lengkap dan dapat diakses mudah membuat masyarakat paham dengan situasi terkini dan lebih waspada. Sistem informasi/IT sudah sangat mudah, seperti halnya jawa barat membuat pikobar.id yang dapat menunjukan data statistik, sebaran kasus dan sebaran faskes.
  6. Mempersiapkan sumber daya manusia, prasarana, tim gerak cepat untuk merespon jika terjadinya lonjakan kasus.